<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Mind. My Head. My Heart</title>
	<atom:link href="http://meopinion.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://meopinion.wordpress.com</link>
	<description>sekedar opini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Sep 2010 15:46:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='meopinion.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My Mind. My Head. My Heart</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://meopinion.wordpress.com/osd.xml" title="My Mind. My Head. My Heart" />
	<atom:link rel='hub' href='http://meopinion.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Teori Uses and Gratifications</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/teori-uses-and-gratifications/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/teori-uses-and-gratifications/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 15:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Academic]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[teori komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[uses and gratifications]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu teori yang muncul dalam kajian komunikasi massa adalah teori Uses and Gratifications. Teori ini membahas tentang penggunaan media massa oleh khalayak aktif.  Dengan kata lain, penggunaan media oleh khalayak diasumsikan sebagai sebuah perilaku aktif dimana khalayak dengan sadar memilih dan mengkonsumsi media tertentu. McLeod dan Backer (dalam Baran dan Davis, 2000) menyebutkan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=95&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu teori yang muncul dalam kajian komunikasi massa adalah teori Uses and Gratifications. Teori ini membahas tentang penggunaan media massa oleh khalayak aktif.  Dengan kata lain, penggunaan media oleh khalayak diasumsikan sebagai sebuah perilaku aktif dimana khalayak dengan sadar memilih dan mengkonsumsi media tertentu. McLeod dan Backer (dalam Baran dan Davis, 2000) menyebutkan bahwa seseorang berdasarkan ketertarikan masing-masing akan memilih media mana yang akan dikonsumsinya dan mendapatkan timbal balik berupa pemenuhan kebutuhan yang diinginkannya.</p>
<p>Ada beberapa asumsi yang mendasari teori ini, baik yang dikemukakan oleh Katz, Gurevitch dan Hass (!974), Dominick (1996) maupun oleh McQuail (2005).  Asumsi-asumsi dasar tersebut anatara lain adalah ;</p>
<p>1. Khalayak merupakan sekelompok konsumen aktif yang secara sadar menggunakan media sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan personal maupun kebutuhan sosial yang diubah menjadi motif-motif tertentu.</p>
<p>2.  Pemilihan media dan isinya merupakan sebuah tindakan yang beralasan serta memiliki tujuan dan kepuasan tertentu sesuai dengan inisiatif khalayak.</p>
<p>3. Seluruh  faktor yang ada pada formasi khalayak aktif seperti motif, gratifikasi yang diharapkan dan gratifikasi yang diterima secara prinsip dapat diukur karena khalayak memiliki kesadara diri yang memadai mengenai penggunaan media, kepentingan dan motivasinya sehingga dapat menjadi bukti bagi peneliti.</p>
<p>4. Media massa bersaing dengan sumber-sumber lain untuk dapat memenuhi kebutuhan audiens.</p>
<p>Menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumler,  dan Michael Gurevitch (dalam Rakhmat, 2005), <em>uses and gratifications</em> meneliti asal mula motif secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan motif dan akibat-akibat lain.</p>
<p>Lebih lanjut William J. Mcguire dalam Jalaludin Rakhmat (2005) menjelaskan bahwa berdasarkan berbagai aliran dalam psikologi motivasional ada setidaknya 16 motif. Motif ini terbagi menjadi dua kelompok besar yakni motif kognitif dan motif afektif. Motif kognitif terdiri dari konsistensi, atribusi, kategorisasi, otonomi, stimulasi, teleologis, dan utilitarian sedangkan motif afektif antara lain adalah reduksitas, ekspresif, egodefensif, penguhan, penonojolan, afiliasi, identifikasi dan peniruan.</p>
<p>Sebagai makhluk sosial, motif manusia terbentuk dari lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial ini antara lain terdiri dari karakteristik demografis, kelompok-kelompok sosial yang diikuti dan karakteristik personal seseorang. Littlejohn (2002) menjelaskan bahwa dalam perspektif <em>uses and gratifications</em>, khalayak yang dengan sadar memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu berusaha memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan media atau dengan cara lain. Selain sadar dengan kebutuhan-kebutuhannya, khalayak pun dapat menyadari apakah cara yang digunakan untuk memenuhi motif-motif ini bisa memuaskannya atau tidak.</p>
<p>Penelitian tentang teori <em>uses and gratifications</em> sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1940an ketika para peneliti tertarik untuk mengetahui mengapa audiens memiliki pola penggunaan media yang berbeda-beda (Wimmer dan Dominick, 1987).  Penelitian tentang <em>uses and gratifications</em> pada awalnya hanya berupa penelitian deskriptif yang berusaha untuk mengklasifikasikan respons khalayak terhadap penggunaan media ke dalam beberapa ketegori (Berelson, Lazarsfeld, &amp; McPhee, 1954; Katz &amp; Lazarsfeld, 1955; Lazarsfeld, Berelson, &amp; Gaudet, 1948; Merton, 1949 dalam Ruggerio, 2000).</p>
<p>Wimmer &amp; Dominick (1987) menyebutkan baru  pada tahun 1950an hingga 1960an penelitian <em>uses and gratifications</em> ini lebih menfokuskan pada identifikasi variabel-variabel psikologis dan sosial yang diperkirakan sebagai precursors dalam perbedaan pola konsumsi media massa. Beberapa penelitian pada periode ini,disebutkan oleh Ruggerio (2000), dilakukan oleh banyak peneliti dengan subyek dan obyek yang bervariasi. Schramm, Lyle, dan Parker (1961) misalnya meneliti tentang penggunaan televisi oleh anak-anak yang dipengaruhi oleh perkembangan mental anak bersangkutan dan hubungannya dengan orangtua dan teman-temannya. Ruggerio (2000) pun mensitasi penelitian Katz dan Foulkes (1964) dalam mengkonsepsikan penggunaan media massa sebagai pelarian sedangkan Klapper (1963) menekankan pentingnya menganalisa efek dari penggunaan media daripada sekedar melabeli motif penggunaan seperti yang telah dilakukan banyak peneliti sebelumnya. Greenberg and Dominick (1969) dalam penelitian selanjutnya menyimpulkan bahwa ras dan kelas sosial berpengaruh pada bagaimana remaja menggunakan televisi sebagai bahan pelajaran informal.</p>
<p>Selama tahun 1970an penelitian dengan intens menguji motivasi audiens dan membangun tipologi-tipologi tambahan dalam penggunaan media untuk memperoleh kepuasan sosial dan psikologis. Hal ini merupakan jawaban dari kritik-kritik yang disampaikan oleh beberapa ilmuwan terhadap teori <em>uses and gratifications</em>.</p>
<p>Kritik yang disampaikan oleh Elliott (1974), Swanson (1977), serta Lometti, Reeves, and Bybee (1977) yang mengungkit bahwa teori <em>uses and gratifications</em> ini memiliki empat masalah konseptual yakni ketidakjelasan kerangka konseptual, konsep mayor yang kurang tepat, penjelasan teori pendukung yang membingungkan dan kegagalan dalam memperhitungkan persepsi audiens terhadap konten media (Ruggerio, 2000:4). Beberapa contoh penelitian dari periode ini antara lain penelitian Rosengreen (1974) yang menyatakan bahwan beberapa kebutuhan dasar beinteraksi dengan karakteristik personal dan lingkungan sosial seseorang akan menghasilkan beberapa permasalahan dan beberapa solusi. Masalah dan solusi yang ditimbulkan ini merupakan bagian dari perbedaan motif untuk pencarian gratifikasi yang muncul dari penggunaan media atau aktivitias lain. Secara bersamaan penggunaan media atau aktivitas lain dapat menghasilkan gratifikasi (atau non-gratifikasi) yang memiliki efek terhadap seseorang atau masyarakat yang akhirnya menciptakan proses yang baru.</p>
<p>Tahun 1980 dan 1990an banyak penelitian yang mulai menganalisa penemuan-penemuan dari penelitian terpisah dan menganggap bahwa penggunaan media massa sebagai sebuah komunikasi terintegrasi sekaligus fenomena sosial (Rubin dalam Ruggerio, 2000:7). Contoh-contoh yang mendukung penelitian pada tahun-tahun ini adalah penelitian yang dilakukan Eastman (1979) yang menganalisa hubungan antara penggunaan media televisi dengan gaya hidup audiens, Ostman and Jeffers (1980) menguji hubungan antara motivasi penggunaan televisi dengan gaya hidup khalayak dan genre telvisi untuk mprediksikan motivasi menonton. Bantz’s (1982) melakukan studi komparatif antara motivasi penggunaan media secara umum dan menonton program televisi tertentu.</p>
<p>Pada tahun 1980-an pula Windahl (dalam Ruggerio, 2000:6) mengemukakan terdapat perbedaan mendasar antara pendekatan efek secara tradisional dan pendekatan teori <em>uses and gratifications</em> dimana penelitian tentang efek sebelumnya selalu berangkat dari perspektif media massa, namun pada penelitian <em>uses and gratifications</em> peneliti berangkat dari perspektif khalayak. Windahl percaya untuk menggabungkan dua pendekatan ini dengan mencari persamaan dari keduanya dan menamai penggabungan ini dengan istiah <em>conseffects</em>. Berbeda dengan Webster dan Wakshlag (dalam Ruggerio:2000) yang berupaya untuk meningkatkan validitas dari determinan struktural dengan cara menggabungkan perbedaan perspektif antara <em>uses and gratifiactions</em> dengan model pemilihan. Pendekatan ini melihat perubahan antara struktur program, pilihan konten media dan kondisi menonton dalam proses pemilihan program. Penelitian lain juga dilakukan oleh Dobos yang menggunakan model <em>uses and gratifications</em> untuk mengamati kepuasan penggunaan dan pemilihan media  dalam sebuah organisasi yang dapat mempredikasikan pemilihan saluran telvisi  dan kepuasan dengan teknologi komunikasi tertentu.</p>
<p>Tidak bisa dipungkiri dengan adanya perkembangan baru teknologi yang menyuguhkan khalayak dengan banyaknya pilihan media, analisa motivasi dan kepuasan menjadi komponen yang paling krusial dalam penelitian khalayak (Ruggerio, 2000). Setiap kali teknologi komunikasi baru tumbuh, dalam hal ini komunikasi massa, para peneliti kemudian berlomba-lomba untuk mengaplikasikan pendekatan uses and geratifications ini terhadap medium baru tersebut.Contohnya adalah Donohew, Palmgreen, and Rayburn (1987) yang mengeksplorasi bagaimana kebutuhan untuk beraktivasi berkorelasi dengan faktor-faktor sosial dan psikologis yang berdampak pada gratifikasi yang didapatkan oleh pemirsa televisi kabel. Walker and Bellamy (1991) meneliti tentang hubungan antara penggunaan pengendali televise jarak jauh dengan ketertaikan audiesn terhadap program tertentu. Lin (1993) melakukan studi untuk mengetahui jika kepuasaan penggunaan VCR, frekuensi dan durasi penggunaan VCR dan komunikasi antarpersonal tentang VCR berhubungan dengan tiga fungsi VCR yakni hiburan, teknologi pengganti televisi dan utilitas social. Jacobs (1995) menguji hubungan antara karakteristik sosiodemografis khalayak dan kepuasan menonton pada pemirsa televise kabel. Perse dan Dunn (1998) meneliti tentang penggunaan computer dan bagaimana kepemilikan CD-Rom dan fasilitas internet dapat berpenganruh tentang kegunaan komputer. Matthias Rickes, Christian von Criegern, Sven Jöckel (2006) meneliti tentang gratifikasi yang didapatkan dari penggunaan situs-situs internet.</p>
<p>Benang merah tentang penerapan teori <em>uses and gratifications</em> dalam media ini diungkapkan oleh Williams, Phillips, &amp; Lum pada tahun 1985 (dalam Ruggerio, 2000) bahwa setiap peneliti ingin mengetahui apakah media baru dapat memenuhi kebutuhan khalayak yang sama dengan media konvesional yang telah diuji sebelumnya. Ruggerio (2000) sendiri menganggap bahwa dengan banyak pilihan media di masyarakat maka perlu diteliti alasan khalayak untuk terus mengkonsumsi media tertentu dan gratifikasi apa yang mereka dapatkan dari penggunaan media tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=95&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/teori-uses-and-gratifications/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kategorisasi Teori-Teori Komunikasi Massa</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/kategorisasi-teori-teori-komunikasi-massa/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/kategorisasi-teori-teori-komunikasi-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 15:42:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Academic]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[teori komunikasi massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Dalam penelitian komunikasi massa, Littlejohn mengungkapkan tiga topik yang sering dan dapat diteliti serta menghasilkan beberapa teori yakni isi dan susunan komunikasi massa, masyarakat dan budaya serta audiens. McQuail (2000) menyebutkan beberapa tema lain yang dapat diteliti dalam komunikasi massa yakni struktur dan organisasi media. Pada tataran teori, McQuail (2000) kemudian membedakan teori-teori media massa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=93&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam penelitian komunikasi massa, Littlejohn mengungkapkan tiga topik yang sering dan dapat diteliti serta menghasilkan beberapa teori yakni isi dan susunan komunikasi massa, masyarakat dan budaya serta audiens. McQuail (2000) menyebutkan beberapa tema lain yang dapat diteliti  dalam komunikasi massa  yakni struktur dan organisasi media.</p>
<p>Pada tataran teori, McQuail (2000) kemudian membedakan teori-teori media massa menjadi lima bagian yakni :<br />
1. Teori Sosial Ilmiah : teori yang masuk dalam kategori ini merupakan teori yang didasari oleh penelitian-penelitian empiris. Hipotesis-hipotesis tentang bagaimana komunikasi massa bekerja dan atau bagaimana efek komunikasi massa kemudian diuji melalui pengujian sistematis dan observasi objektif.<br />
2. Teori Kultural : teori yang masuk dalam kategori ini memiliki beragam karakter. Meski demikian teori ini selalu memiliki argumen yang jelas dan konsistensi yang tinggi meski komponen intinya bisa jadi sangat imajinatif dan    ideal. McQuaill menjelaskan bahwa teori-teori kultural ini  biasanya diaplikasikan pada media visual seperti film, foto atau poster.<br />
3. Teori Normatif : teori yang masuk dalam kategori teori normatif merupakan teori yang menjelaskan bagaimana seharusnya media beroperasi dengan sebuh sistem spesifik dalam nilai-nilai sosial. Teori ini mencakup tentang empat teori pers.<br />
4. Teori Operasional : teori operasional adalah teori normative namun dengan segi-segi praktikal. Teori yang masuk dalam kategori ini bukan hanya mengenai bagaimana idealnya sebuah media beroperasi namun juga bagaimana sebuah media dapat beroperasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Teori yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah teori-teori periklanan dan perilaku konsumen<br />
5.Teori common sense : disebut juga dengan teori sehari-hari, teori ini merujuk kepada pengetahuan dan ide-ide yang dimiliki oleh semua orang yang pernah bersinggunagan dengan komunikasi massa. Lebih lanjut, Baran dan Davis menyebutkan bahwa setiap orang memiliki teori-teori tersendri tentang saluran komunikasi massa yang seperti apa yang berkualitas.</p>
<p> Berbeda dengan pengkategorisasian McQuail, Baran dan Davis (2000) mengelompokkan teori-teori yang berkembang dalam komunikasi massa sesuai dengan era perkembangannya yakni era teori masyarakat massa, era kebangkitan perspektif ilmiah dalam komunikasi massa, era efek terbatas, era kritis kultural dan era efek moderat.</p>
<p>Era masyarakat massa dimulai saat teknologi komunikasi massa berkembang. Dengan penemuan-penemuan terbaru, baik dalam bidang industri maupun media, banyak ilmuwan sosial yang berpikir bahwa media massa merupakan simbolisasi segala sesuatu yang salah dalam kehidupan urban di awal abad 19. Perlu diketahui bahwa ilmuwan ilmuwan sosial ini berasal dari golongan golongan elit bangsawan yang takut akan perubahan. Perspektif keilmuan yang berasal dari ketakutan ini kemudian dirujuk sebagai teori masyarakat massa. </p>
<p>Argumen inti pada teori masyarakat massa ini adalah media massa dianggap merusak tatanan sosial tradisional dan untuk memperbaikinya harus diambil langkah-langkah untuk mengembalikan lagi nilai-nilai lama atau menciptakan sesuatu yang baru. Teori ini sangat membesar-besarkan kemampuan media untuk merusak tatanan sosial sehingga gagal mempertimbangkan bahwa kekuatan terbesar media ada pada pilihan bebas masyarakat untuk mengkonsumsi media tersebut (Baran dan Davis, 2000:12)</p>
<p>Era kebangkitan perspektif ilmiah dalam komunikasi massa dipelopori oleh Katz Lazarzfeld. Imigran yang keluar dari Nazi Jerman dibawah Ford Foundation ini kemudian berkeras bahwa untuk mengetahui pengaruh komunikasi atau media massa tidak cukup hanya dengan asumsi-asumsi semata. Lazarsfled kemudian menawarkan ide untuk melakukan peneliatian yang didesain secara teliti dan melakukan percobaan lapangan sehingga dia dapat mengamati dan mengukur pengaruh media kepada masyarakat. Lazarsfeld et all dalam Baran dan dan Davis (2000) mengutarakan bahwa sekedar mengasumsikan bahwa propaganda politik memiliki pengaruh yang besar, harus ada bukti yang kuat yang dapat menunjukkan pengaruh tersebut. </p>
<p>Hingga pada awal 1950an penelitian Lazarsfeld kemudian menghasilkan banyak data yang menginterpretasikan bahwa komunikasi melalui media massa tidaklah memiliki pengaruh sebesar yang selama ini dibayangkan. Media massa justru mendukung tatanan sosial dan status quo yang berkembang di masyarakat. bukan mengancamnya. Hal ini kemudian dilabeli sebagai perspetif efek terbatas atau limited effetcs perspective dan membawa ilmuwan komunikasi kepada era efek terbatas.</p>
<p>Setelah tahun 1950an para peneliliti di bidang komunikasi massa kemudian menghentikan penelitian yang berkaitan tentang powerful effects dan mendokumentasikan semua hal yang berhubungan dengan limited effects. Hasil penelitian ini kemudian sangat konsisten dengan yang dikemukakan oleh Lazarsfled sehingga banyak peneliti merasa bosan dan beranggapan bahwa penelitian komunikasi massa sudah habis (Berelson dalam Baran dan Davis, 2000).</p>
<p>Era keempat yang dikemukakan oleh Baran dan Davis (2000) adalah era kritisme kultural (cultural criticism). Meski efek terbatas populer di Amerika namun para peneliti Eropa skeptis terhadap metode penelitian Amerika. Era ini menghasilkan sedikitnya dua perspektif komunikasi massa yakni neomarxisme dan studi kultural Inggris (british cultural studies).</p>
<p>Neomarxisme menganggap bahwa media membuat para elit dominan untuk mengembangkan kekuatan mereka. Hall dalam Baran dan Davis (2000) kemudian menjelaskan bahwa media menyebarluaskan cara pandang yang sesuai dengan para elit dominan. Dengan kata lain media massa dianggap sebagai area publik dimana sebuah pertempuran budaya terjadi dan budaya hegemoni ditempa habis-habisan untuk menyiarkan pandangan bahwa status quo merupakan satu-satunya hal yang logis dan rasional dalam struktur masyarakat.</p>
<p>British cultural studies memfokuskan penelitiannya pada media massa dan peranannya dalam mempromosikan pandangan dunia yang terhegomoni dan budaya dominan diantara beragam subgrup di masyarakat. Dalam penelitiannya Mosco dan Herman (dalam Baran dan Davis, 2000) kemudian menemukan bahwa orang-orang kerapkali menolak terhadap ide hegemoni dan menyebarkan interpretasi alternartif dari kehidupan sosial. Meskipun British cultural studies bermula dari asumsi-asumsi determinis tentang pengaruh media massa namun penelitian mereka kemudian lebih berfokus terhadap studi resepsi khalayak yang membangkitkan kembali pertanyaan penting tentang kekuatan potensial yang dimiliki media dalam situasi tertentu dan kemampuan khalayak aktif untuk menahan pengaruh media.</p>
<p>Era terakhir adalah era efek moderat dimana pertanyaan tentang efek media kembali dipertanyakan dengan cara yang berbeda. Setelah pada tahun 1960an penelitian pada bidang komunikasi massa dianggap mati pada era ini komunikasi massa diteliti dari sudut pandang khalayak. Salah satu anggapan utama dalam era ini adalah tentang khalayak aktif yang menggunakan media untuk membuat pengalaman berarti (Bryan dan Street dalam Baran dan Davis, 2000,17). Menurut perspektif ini juga pengaruh media bisa timbul sebagai konsekuensi langsung setelah adanya interaksi yang cukup lama. Dari era ini teori-teori yang muncul antara lain adalah teori semiotik dan framing.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=93&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/kategorisasi-teori-teori-komunikasi-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Massa, Pengertian dan Karakteristiknya</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/komunikasi-massa-pengertian-dan-karakteristiknya/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/komunikasi-massa-pengertian-dan-karakteristiknya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2010 15:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Academic]]></category>
		<category><![CDATA[definisi komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[karakteristik komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Komunikasi, dalam sekian banyak bentuknya, memiliki peran dan fungsi yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Watzalawick dalam Bradac and Bowers (1980) bahkan mengungkapkan bahwa human being cannot not communicate. Setiap manusia memiliki potensi untuk berkomunikasi satu sama lain saat dia terdiam sekalipun. Komunikasi manusia memiliki beberapa konteks tergantung dari jumlah komunikator, derajat kedekatan fisik, saluran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=89&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komunikasi, dalam sekian banyak bentuknya, memiliki peran dan fungsi yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Watzalawick dalam Bradac and Bowers (1980) bahkan mengungkapkan bahwa <em>human being cannot not communicate</em>. Setiap manusia memiliki potensi untuk berkomunikasi satu sama lain saat dia terdiam sekalipun. Komunikasi manusia memiliki beberapa konteks tergantung dari jumlah komunikator, derajat kedekatan fisik, saluran indrawi yang tersedia hingga kesegeraan umpan balik (Cassandra dalam Mulyana, 71;2002).<br />
Salah satu konteks komunikasi ini antara lain adalah komunikasi massa. Cassandra (dalam Mulyana, 71;2002) menyebutkan bahwa jika konteks komunikasi massa dibandingkan dengan  konteks komunikasi lainnya maka dapat dijelaskan bahwa komunikasi massa merupakan sebuah bentuk  komunikasi yang memiliki jumlah komunikator yang paling banyak, derajat kedekatan fisik yang paling rendah, saluran indrawi yang tersedia sangat minimal dan umpan balik yang tertunda. </p>
<p>1. Definisi Komunikasi Massa<br />
Definisi paling sederhana dari komunikasi massa diungkapkan oleh Bittner (dalam Rahmat, 2005: 186) ”Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang”.  Sedangkan Dominick (1996) mengutarakan bahwa komunikasi massa merupakan sebuah organisasi kompleks yang dengan bantuan dari satu atau lebih mesin membuat dan menyebarkan pesan publik yang ditujukan pada audiens berskala besar serta bersifat heterogen dan tersebar. Meletze (dalam Rakhmat, 1998) sendiri kemudian memberi definisi dari komunikasi massa dapat diartikan sebagai bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada populasi dari berbagai komunitas yang tersebar. Adapun Rodman (2006) menyebutkan bahwa komunikasi massa terdiri dari pesan-pesan termediasi (mediated messages) yang disiarkan kepada publik yang besar dan tersebar.</p>
<p>Dari beberapa definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa merupakan kegiatan seseorang atau suatu organisasi yang memproduksi serangkaian pesan dengan bantuan mesin untuk disebarkan kepada khalayak banyak yang bersifat  anonim, heterogen dan tersebar.</p>
<p>Rodman (2006) menawarkan model dasar komunikasi massa dalam bagan dibawah ini	</p>
<div id="attachment_90" class="wp-caption aligncenter" style="width: 604px"><a href="http://meopinion.files.wordpress.com/2010/09/model-rodman.jpg"><img src="http://meopinion.files.wordpress.com/2010/09/model-rodman.jpg?w=594&#038;h=762" alt="" title="model komunikasi dasar rodman" width="594" height="762" class="size-full wp-image-90" /></a><p class="wp-caption-text">model komunikasi dasar rodman</p></div>
<p>Source dalam bagan diatas merupakan para profesional atau sebuah organisasi besar yang bertindak sebagai gatekeeper. Pesan yang disiapkan oleh gatekeeper untuk disebarkan adalah pesan yang dibentuk berdasarkan pertimbangan ekonomi, legal dan etika. Dengan adanya perbedaan interprestasi peran oleh masing-masing individu dalam khalayak yang menyebabkan adanya efek baik pada tingkat individual dan tingkat masyarakat.</p>
<p>Rodman (2006:9) menyatakan bahwa model ini memperbesar peran dari gatekeeper dan membatasi umpan balik alami. Hal ini terlihat dari bagaimana gatekeeper memilih dari sumber berita yang tak terhingga mulai dari hiburan dan informasi yang ada untuk diekspos kepada khalayak.</p>
<p><strong>2. Karakteristik Komunikasi Massa</strong><br />
Serupa dengan definisi komunikasi massa, karakteristik tentang komunikasi massa pun memiliki banyak versi dari para ahli komunikasi. Elizabeth Noelle Neuman (dalam Rakhmat, 1983 : 92 ) menyebutkan empat tanda pokok dalam komunikasi massa yaitu :<br />
1. komunikasi massa bersifat tidak langsung<br />
2. komunikasi massa bersifat satu arah<br />
3. komunikasi massa bersifat terbuka.<br />
4. memiliki publik yang secara geografis tersebar.</p>
<p>Rodman (2006:8) dalam bukunya  Mass Media In A Changing World menyebutkan perbedaan komunikasi massa dengan jenis komunikasi lain yakni :<br />
1. Proses umpan balik berjalan lamban dan interaksi antara komunikator dan komunikan dibatasi.<br />
2. Komunikasi massa memiliki efek yang besar dan meluas.<br />
3.Proses encoding dan decoding melalui beberapa tahapan (multistages) dengan kemungkinan gangguan semantik, alam dan mekanis.<br />
4.  Pesan yang disampaikan bersifat publik, mahal dan mudah terputus.<br />
5. Komunikan memiliki jumlah yang besar dan dapat memilih pesan mana yang ingin ia akses.</p>
<p>Dari uraian-uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut :<br />
1. Sumber atau komunikator dari komunikasi massa merupakan sebuah organisasi terlembaga yang menentukan pesan apa saja yang akan disebarkan.<br />
2. Pesan bersifat terbuka karena semua orang mendapat isi pesan yang sama, mahal karena melibatkan beberapa tahapan encoding dan decoding serta diperlukannya teknologi untuk memproduksi dan menyebarkan pesan, serta dapat dipotong dengan gampang.<br />
3. Komunikan tidak memiliki identitas (anonim), banyak, tersebar dan heterogen sehingga terpaan pesan dapat diapresiasi berbeda oleh masing-masing individu.<br />
4.Proses umpan balik berjalan lambat dan sulit mendapatkan respons dari komunikator. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=89&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/09/27/komunikasi-massa-pengertian-dan-karakteristiknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://meopinion.files.wordpress.com/2010/09/model-rodman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">model komunikasi dasar rodman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>City Of Bones, Kuartet Perjalanan Pemburu Bayangan.</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/07/06/city-of-bones-kuartet-perjalanan-pemburu-bayangan/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/07/06/city-of-bones-kuartet-perjalanan-pemburu-bayangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 18:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Cassandra Clare]]></category>
		<category><![CDATA[City of Bones]]></category>
		<category><![CDATA[fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Ufuk press]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana jadinya jika kamu bisa melihat makhluk makhluk dari dunia lain di sekitarmu? Bagaimana jadinya jika selama belasan tahun kamu ternyata memiliki ingatan yang tersegel? Bagaimana jika suatu hari makhluk-makhluk buas menyerangmu dan ibumu? Takut? Penasaran? Mungkin itu pula yang dirasakan oleh Clary (16) yang bertualang di sebuah dunia baru yang gelap, Dunia Bayangan setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=80&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana jadinya jika kamu bisa melihat makhluk makhluk dari dunia lain di sekitarmu? Bagaimana jadinya jika selama belasan tahun kamu ternyata memiliki ingatan yang tersegel? Bagaimana jika suatu hari makhluk-makhluk buas menyerangmu dan ibumu? Takut? Penasaran? Mungkin itu pula yang dirasakan oleh Clary (16) yang bertualang di sebuah dunia baru yang gelap, Dunia Bayangan setelah malam hang-outnya yang biasa-biasa saja turns out to be a worst one. A nightmare ever.</p>
<p>Lantas kenapa dengan Jace (17)? Pemburu bayangan judes dan straight to the point yang baru dikenal  namun bisa menenangkan Clary lebih dari yang bisa dilakukan Simon, sahabat baiknya. Mungkinkah Clary jatuh cinta pada Jace?</p>
<p><span id="more-80"></span></p>
<p>Novel pertama dari Kuartet pemburu bayangan ini menawarkan sebuah kisah fiksi perpaduan mitos satu dan lainnya. Ada nephilim (manusia keturunan malaikat), werewolf, vampir hingga kelpie. Apa saja yang disajikan? untuk ini saya akan mencoba merangkumnya, bayangkan saja novel Hush Hushnya Becca Fitzpatrick dicampur dengan serial Harry Potter J.K.R plus Serial Percy Jackson. Bingung? Sama! membacanya seperti harus memakan sepiring makanan dengan menu yang bermacam-macam.</p>
<p>Kenapa saya bilang ini memiliki formula campur aduk dengan tiga novel/ serial di atas? Satu, ini membahas tentang Nephilim, salah satu tokoh sentral dari Novel Hush-Hush plus makhluk-makhluk gaib yg ada di dalamnya.  Dua, setting institut, tokoh Hodge, tokoh Valentine, saudara hening, Kunci, Lingkaran akan sangat mengingatkan kita pada kastil hogwarts, Dumbledore,  Voldemort, Unspeakables, Wizengamot dan Death Eaters yang ada di serial HP. Tiga, plot menyembunyikan anak dan pergi dari dunia bayangan dan bagaimana mereka bertarung akan mengingatkan kita pada serial percy jackson minus para dewa.</p>
<p>Tapi memang sih, ada perbedaan pengertian mitos disini. Di buku ini vampir dikabarkan punya motor terbang (sounds like sirius motorcycle eh?) namun tidak glamor, mewah dan hanya makhluk rendah yang tinggal di hotel bobrok. Sama sekali bukan vampirnya twilight! <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Tapi masalah werewolf, Cassandra Clare rupanya memiliki ide yang sama dengan Meyer plus sedikit JKR. Werewolf dalam buku ini hidup secara kawanan, ada alfa dan beta, dan tidak boleh ada dua alfa dalam satu kawanan or they will duel to kill to reign supremacy <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  plus werewolf disini juga tetap takut pisau perak dan ada karena gigitan.</p>
<p>Sebetulnya plotnya cukup tricky meski yah pemaparannya agak membosankan. Pemaparan yg membosankan ini membuat saya tidak betah membaca buku setebal 659 halaman ini. entah jika saya membaca versi asli, karena versi terjemahan ini cukup membosankan. Mungkin ufuk selaku penerbit bisa mengganti penerjemah dan editor naskah di buku selanjutnya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Bukan apa-apa, meski formulanya campur aduk namun buku ini cukup menarik untuk dibaca, apalagi bagi mereka yang gemar genre fantasi slash mitosmitos seperti serial Harry Potter, Percy Jackson dan atau Eragon. Tapi kalo pemaparan di bukunya ngga asyik, percayalah buku ini akan begitu sulit dicerna, belum lagi mempertimbangkan isinya yang begitu padat karya. Namun menariknya buku ini menyediakan footnote untuk memberitahu jenis makanan hingga nama wilayah.</p>
<p>Meski demikian, buku ini cukup oke untuk dibaca pada akhir pekan yang tenang atau masa liburan. But don&#8217;t expect too much. Bacalah tanpa pretensi dan hilangkan ingatan tentang serial HP, Percy Jackson, Eragon bahkan novel Hush Hush. Dijamin, novel ini akan cukup menyenangkan.</p>
<p>Love,</p>
<p>MeO</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=80&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/07/06/city-of-bones-kuartet-perjalanan-pemburu-bayangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pasal 34 ayat 1 UUD 45</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/05/04/pasal-34-ayat-1-uud-45/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/05/04/pasal-34-ayat-1-uud-45/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 11:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Alangkah Lucunya]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[efek afektif]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[UUD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Familiar dengan judul blog saya kali ini? bagi mereka yang menghabiskan waktu sekolah apalagi di zaman orba, pasal 34 ini tentu sudah ada di dalam kepala. ya pasal yang berbunyi &#8220;Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara&#8221; ini menggelitik perasaan saya. Sudahkah pasal ini dilaksanakan? atau hanya sekedar ayat dalam kitab yang lusuh? Permasalahan sosial [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=72&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Familiar dengan judul blog saya kali ini?</p>
<p>bagi mereka yang menghabiskan waktu sekolah apalagi di zaman orba, pasal 34 ini tentu sudah ada di dalam kepala. ya pasal yang berbunyi &#8220;Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara&#8221; ini menggelitik perasaan saya. Sudahkah pasal ini dilaksanakan? atau hanya sekedar ayat dalam kitab yang lusuh?</p>
<p>Permasalahan sosial seperti pengamen, pengemis, anak jalanan dan pengasong merupakan masalah klasik di negeri ini. masalah yang sudah ada dari jaman purba namun belum juga bisa teratasi hingga detik ini. Janji pemerintah untuk mengurus fakir miskin dan anak terlantar hanya cukup jadi pengisi Undang-Undang Dasar. Yang lantas terjadi malah pemerintah menciptakan fakir-miskin dan anak terlantar baru dengan beberapa kebijakannya.</p>
<p>Lebih lucunya lagi, tindakan yang dilakukan aparat pemerintah berlawanan dengan makna pasal ini. Anda tentu sudah sering mendengar cerita ketika anak jalanan a.k.a anak terlantar diciduk dan diperlakukan kasar oleh aparat. Saya jadi mengira bagi mereka memelihara mungkin sama artinya dengan memukul dan menyiksa. bukan hal yang baru jika para anak terlantar ini dipukuli di markas aparat sana. Bukan hal yang baru pula jika para fakir miskin yang berusaha kecil-kecilan lantas tergaruk yang ujungnya selain dagangan dirampas juga harus membayar sejumlah uang pada yang berwenang.</p>
<p>Lucu, inikah makna memelihara fakir miskin dan anak terlantar di mindset pemerintah?</p>
<p>tulisan ini hanya sekedar luap emosi yang terpancing setelah menonton film &#8216;alangkah lucunya (negeri ini)&#8217;, film yang menyajikan &#8216;sekedar&#8217; realitas sosial dan psikologis masyarakat. Namun sungguh bagi saya efek afektif dari rangkaian gambar yang tersiar cukup besar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=72&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/05/04/pasal-34-ayat-1-uud-45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyoal UN</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/04/28/menyoal-un/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/04/28/menyoal-un/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 05:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil UN]]></category>
		<category><![CDATA[UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Ujian Nasional alias UN 2010 tingkat SMA membawa sekian berita. Mulai dari kesalahan pemeriksaan yang mengakibatkan keterlambatan pengumuman, siswa unggul yang mendapat nilai rendah dan harus ujian ulang, hingga bunuh diri karena gagal ujian. Tingkat ketidaklulusan siswa UN saat ini mencapai 10%. Saya tidak tahu apakah ini angka yang besar atau kecil. Namun ketidaklulusan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=68&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ujian Nasional alias UN 2010 tingkat SMA membawa sekian berita. Mulai dari kesalahan pemeriksaan yang mengakibatkan keterlambatan pengumuman, siswa unggul yang mendapat nilai rendah dan harus ujian ulang, hingga bunuh diri karena gagal ujian.</p>
<p>Tingkat ketidaklulusan siswa UN saat ini mencapai 10%. Saya tidak tahu apakah ini angka yang besar atau kecil. Namun ketidaklulusan ini lantas membuat yang berwenang dan yang merasa berkepentingan saling tuding. Ada yang bilang bahwa kekurangan guru di daerah pelosok menjadi penyebab (tapi kalo ini yang jadi masalahnya kenapa siswa di sekolah favorit di kota besar juga ada yang tidak lulus?) hingga menyoroti sistem UN yang memiliki standardisasi nasional tidak tepat untuk diterapkan.</p>
<p>ironis memang, mengecap pendidikan dengan menghabiskan waktu tiga tahun dan mengeluarkan biaya sekian rupiah lantas gugur begitu saja karena nilai yang tidak mencapai batas.  Dan entah kenapa saya lebih menyukai sistem EBTA/EBTANAS yang dulu. Siswa tetap ujian tanpa ada nilai kelulusan. Hasil yang didapatkan akan menjadi kebanggaan dan pembuktian pribadi. Jika hasil UN sekarang? Saya tidak tahu pasti! Hasil UN hanyalah sekedar untuk kelulusan!!</p>
<p>Meski UN saat ini menggoreskan banyak air mata untuk 10% siswa Indonesia tapi nilai UN yang didapat 90% siswa tentu memuaskan(minimal untuk dirinya sendiri). Tanpa bermaksud menggeneralisasi, dua kenalan saya yang lulus SMA mendapatkan nilai fantastis. Yang satu mendapat Nilai 9 di matematika dan satu lagi hasil UN-nya rata-rata 9. Fantastis. Kenapa saya sebut fantastis? Karena saya tahu yang mendapat nilai 9 di matematika tidak terlalu cemerlang di pelajaran tersebut, dan yang punya rata-rata 9 malah kondisi biasanya hanya rata-rata.</p>
<p>Meski demikian, nilai fantastis di UN saya rasa tidak akan membawa efek apa-apa. Terlebih bagi lulusan SMA. etelah UN lewat ujian masuk untuk duduk di bangku kuliah tentu menanti. disini kawan-kawan SMA dengan nilai UN mereka harus bertarung lagi. Kini tanpa contekan atau jawaban yang disebar dari ponsel ke ponsel. Hanya faktor luck, tingkat kecerdasan dan pada beberapa kasus seberapa dalam para orang tua siap merogoh kantong uang mereka.</p>
<p>Love,</p>
<p>MeO</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=68&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/04/28/menyoal-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tweet war on tweet world between young tweeter user</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2010/02/17/tweet-war-on-tweet-world-between-young-tweeter-user/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2010/02/17/tweet-war-on-tweet-world-between-young-tweeter-user/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 13:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[marsha]]></category>
		<category><![CDATA[tweeter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Finding name marsha be trending topics in my tweeter home. Penasaran, akhirnya saya buka tweet dua belah pihak yang sedang berseteru ini. Dari yang saya tangkap sih sebetulnya berawal dari ketidaksukaan miss M atas tweet-tweetnya&#8230; lets say w&#8217;s. Dia bilang tweetnya w&#8217;s itu sampah dan lenje karena hanya berbicara tentang para lelaki dan ngga punya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=60&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Finding name marsha be trending topics in my tweeter home. Penasaran, akhirnya saya buka tweet dua belah pihak yang sedang berseteru ini. Dari yang saya tangkap sih sebetulnya berawal dari ketidaksukaan miss M atas tweet-tweetnya&#8230; lets say w&#8217;s. Dia bilang tweetnya w&#8217;s itu sampah dan lenje karena hanya berbicara tentang para lelaki dan ngga punya kehidupan and soon and soon. Awal tweetnya Ms M. cuma bilang supaya w&#8217;s jangan sok inggris. memang sih, dari kacamata saya sebagai penonton Tweet Ms. M meng-insult w&#8217;s. Jadi karena kultur orang Indonesia yang rasa solidaritasnya begitu tinggi, teman-teman dan followers w balik menginsult Ms. M.</p>
<p>Hingga finally, beredar isu di sebuah media bahwa M menjelekkan sekolah negeri. Dari penelusuran tweet sih saya sih awalnya tidak menemukan statement eksplisit. M hanya menyebutkan bahwa w&#8217;s dan mereka yg membelanya adalah alay dan alay sekolah di kolong jembatan bukan di sekolah internasional. Begitu kata alay disebut, ya otomatis rasa marah makin membara.</p>
<p>Tapi ternyata the statement tentang menjelekkan sekolah negeri comes out 6 hours ago dan lengkapnya adalah &#8220;Sorry ya gw sekolahnya di sekolah swasta bukan dinegri2 yg kampung2&#8243;</p>
<p>Hm.</p>
<p>Saya tidak akan memberikan judgment siapa yang salah dan siapa yang benar.</p>
<p>Tapi saya jadi berpikir sesuatu hal yang kadang luput dari perhatian kita sebagai netter atau lebih spesifiknya pengguna social media seperti twitter. Lalu apa yang luput? Menurut saya yang luput adalah etika dan rasa hormat pada orang lain. Karena merasa twitter (atau social media lain) adalah ranah privat dimana kita bebas beraksi, berkreasi dan mengeluarkan pendapat maka kita lupa bahwa ada orang yang akan melihat apa yang kita sampaikan, melihat foto yang kita upload. Karena lupa ada orang lain itu maka kita juga lupa bertenggang rasa.</p>
<p>Padahal salah satu sifat komunikasi adalah communication is irreversible. Apa yang sudah kita lakukan/ucapkan tentu tidak akan bisa kita kembalikan lagi. Yang saya sesalkan dari netter khususnya dua tweet user yang saya ceritakan. Kejadian ini akan berbekas di kehidupan mereka. meskipun mereka tidak ingin mengingatnya tapi apa yang mereka lakukan saat ini bisa dibaca semua orang dan data digital (seperti yang kita tahu) akan sulit dihapus.</p>
<p>Kita harus bisa menjaga etika kita sendiri daripada ikut diatur melalui RPM Konten Multimedia:)</p>
<p>So guys, inget peribahasa mulutmu harimaumu, sekarang bisa jadi tweetmu harimaumu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=60&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2010/02/17/tweet-war-on-tweet-world-between-young-tweeter-user/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Hujan</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/30/cerita-hujan/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/30/cerita-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 18:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Hujan menderas menyentuh aspal kota Bandung. Beberapa mulut menggerundel sendiri di depan pintu masuk sebuah mall di kawasan Merdeka. Yang lain bersegera berteduh di pohon besar bahkan ada yang langsung masuk ke toko-toko sekitar. Namun ada yang tertawa girang ketika tetesan air langit membesar dan merapat. Cepat-cepat mereka lari ke suatu tempat tak jauh dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=47&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan menderas menyentuh aspal kota Bandung. Beberapa mulut menggerundel sendiri di depan pintu masuk sebuah mall di kawasan Merdeka. Yang lain bersegera berteduh di pohon besar bahkan ada yang langsung masuk ke toko-toko sekitar. Namun ada yang tertawa girang ketika tetesan air langit membesar dan merapat. Cepat-cepat mereka lari ke suatu tempat tak jauh dari sana. Lalu berebut membawa payung yang sedari pagi sudah disandarkan disitu.</p>
<p><span id="more-47"></span></p>
<p>Sebutlah namanya Asep. Bocah lelaki berusia 11 tahun yang ikut berlarian. Mencoba mengais lembaran ribuan dari turunnya hujan. Dengan upah satu porsi otak-otak plus genggaman sepuluh ribu di tangan, saya berhasil menarik Asep untuk duduk di pinggiran sebuah showroom mobil. Dia berseri-seri memandang otak-otak di pangkuannya dan selembar puluh ribuan yang saat itu sudah berpindah ke kantong celananya.</p>
<p>&#8220;Kalo hujan gede kayak gini, rezeki namanya buat saya dan temen-temen,&#8221; katanya sambil cengar-cengir. Saya cuma bisa ikut tersenyum. Saya hanya bisa menunggunya memakan satu bungkus otak-otak sebelum kembali memaksanya bicara.</p>
<p>&#8220;Saya udah lama di jalan Teh, ada lah dua atau tiga tahun mah,&#8221; Asep mengawali ceritanya. Beban ekonomi membuat Asep terbawa ke jalanan. Menikmati arus keras kehidupan di usianya yang masih sangat belia. Penghasilan ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu yang jadi buruh cuci ternyata tidak pernah cukup membiayai hidup keluarga yang terdiri dari enam nyawa itu. Jangankan untuk sekolah, makan bisa sehari tiga kali saja sudah cukup mewah.</p>
<p>Asep akhirnya harus drop out pada kelas 2 SD. Bosan di rumah, membuatnya bermain di jalanan. &#8220;Saya diajak temen ikutan ngamen. Tapi sebelumnya emang harus lapor dan minta izin dulu sih&#8221; ujar Asep sambil membuka bungkus otak-otak yang ketiga. Mengamen, mengemis, dan jadi ojek payung adalah tiga pekerjaan yang kerapkali dilakoni Asep. Jika sedang ingin menyanyi, maka mengamenlah ia dengan bekal kecrikan tutup botol atau gitar kecil yang dipinjam dari teman sesama anak jalanan. Jika hujan mengguyur maka ojek payung adalah sumber pencaharian terbesar. Tapi kalo dia sedang enggan dan hanya ingin berjalan-jalan maka dengan gampang ia akan memelas sambil menengadahkan tangan.</p>
<p>Tiga pekerjaan yang dilakoni bergantian ini ternyata membawa rupiah ke rumah. Dari recehan hingga ribuan ia hitung dan akhirnya dibagi dua. Sebagian untuk ibunya, sebagian lagi untuk dihabiskan seorang diri. &#8220;Kalo lagi rame teh, sehari saya bisa dapet sampe duapuluh lima ribu, bahkan lebih.Tapi kalo sepi, paling cuma dapet sepuluh ribuan,&#8221; ungkap Asep blak-blakan.</p>
<p>Dengan pemasukan rutin perhari meski tak tentu besaran. Mau tak mau orangtua Asep memperbolehkan anak itu berkeliaran. Setiap pagi, dibonceng sebuah sepeda tua, Asep diantar ayahnya hingga persimpangan Riau-Merdeka. Baru setelah jam delapan malam, ayahnya menunggu disudut gajahlumantung.</p>
<p>&#8220;Rumah saya disebelah sana tuh. Deket sama ITB.&#8221; ujar Asep ketika saya tanya dimana dia tinggal.  Asep lantas bercerita bagaimana dia setiap hari biasa melihat mahasiswa ITB berseliweran di depannya. Menenteng buku sambil berdiskusi di jalan-jalan. Atau malah menenteng buku plus menggandeng pacar.  Dia hanya menyeringai ketika saya tanya tentang sekolah dan kemungkinan kuliah di kampus ternama itu. Sekolah adalah hal yang tak mungkin diraihnya.</p>
<p>&#8220;Saya udah ngga mungkin sekolah Teh, biayanya gede, <em>teu kabedag</em>!&#8221; Ujarnya setengah menggerutu. Begitu saya sampaikan tentang sekolah dasar yang kini tanpa SPP, bocah 11 tahun itu lagi-lagi menyeringai. Kemudian dia lantang menyebut kebutuhan bersekolah seperti buku pelajaran, buku tulis, seragam dan alat pensil yang juga butuh biaya yang tak sedikit. &#8220;Daripada buat gituan (perlengkapan sekolah. red), mending buat makan aja lah Teh,&#8221; katanya ringan.</p>
<p>Meski berpenghasilan hingga Rp. 750.000,00 sebulan, bukan berarti hidup di jalan lancar-lancar saja. Aman dan mulus layaknya jalan tol yang di hotmix. Hidup di jalanan juga keras dan berdinamika. Dari mulai senioritas antar anak jalanan, rebutan cakupan wilayah hingga yang paling menyakitkan adalah kena garuk satpol PP.</p>
<p>&#8220;Aduh teh, ngga mau lagi saya mah kena razia.&#8221; ujarnya sambil menerawang kedepan. Razia anak jalanan memang pernah dialami Asep. Tapi bukannya diberi penyuluhan, yang ada hanya pukulan dan tendangan yang mampir di tubuh mungil itu. Jangan tanya apakah ada LSM yang memberikan perlindungan, jangan tanya pula tentang belas kasihan pemerintah daerah. Tiga hari mendekam di kurungan, yang membebaskan ternyata dari perseorangan.</p>
<p>&#8220;Saya inget banget Teh, yang dateng dan bebasin saya dan temen-temen waktu itu almarhum Harry Roesli.&#8221; Katanya sambil mengerjapkan mata. Menangis?? saya tidak tahu pasti.</p>
<p>Jalanan juga mengajarkan Asep bahwa hidup semakin lama semakin berat. Bukan saja orang-orang semakin pelit tapi juga bertambahnya anak jalanan mengurangi rupiah yang bisa terhasilkan.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalo kamu udah ngga dapet uang lagi dari jalanan Sep?, &#8221; saya iseng bertanya. Asep lama termenung sebelum menjawab. &#8220;Saya bakal nyari lahan kerja lain teh, mungkin jadi kuli kayak Bapak, atau apa gitu&#8230; yang penting bisa buat perut kenyang.&#8221;</p>
<p>Senja sudah mulai turun perlahan. Tapi hujan masih menderas. Asep akhirnya bangkit setelah otak-otak terakhir habis dilahap. Saya hanya bisa menyaksikan anak itu berlari menembus hujan dengan payung tertenteng. Ada ibu-ibu di seberang jalan yang celingukan mencari tumpangan payung.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=47&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/30/cerita-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak, Korban Televisi?</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/28/anak-korban-televisi/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/28/anak-korban-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 20:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Tugas Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[Media Literasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Alif (5) dikenal sebagai anak yang sopan dan memiliki perangai yang halus meskipun sedikit hiperaktif. Ia selalu mencoba bersikap mandiri, seperti mengambil makan dan minum sendiri tanpa meminta pada Bu Min (56), pembantu rumah tangganya. Namun belakangan, sikap dan perilakunya berubah. Alif mulai sering berteriak meminta diambilkan air minum pada Bu Min bahkan pernah suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=37&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alif (5) dikenal sebagai anak yang sopan dan memiliki perangai yang halus meskipun sedikit hiperaktif. Ia selalu mencoba bersikap mandiri, seperti mengambil makan dan minum sendiri tanpa meminta pada Bu Min (56), pembantu rumah tangganya. Namun belakangan, sikap dan perilakunya berubah. Alif mulai sering berteriak meminta diambilkan air minum pada Bu Min bahkan pernah suatu hari bocah itu membentak Bu Min karena lama ketika mengambilkan lauk. Tak cuma itu Alif juga menjuluki Bu Min sebagai ’orang kecil’</p>
<p>Halimah (32) tak urung merasa heran atas perilaku anaknya tersebut. ”biasanya Alif bersikap santun pada siapa saja, saya juga kaget begitu tahu dia jadi suka memerintah atau membentak pembantu, padahal kami tidak pernah melakukannya”. Usut punya usut, terkuaklah penyebab perubahan perilaku Alif, tidak lain dan tidak bukan sinetron menjadi causa prima perubahan sikap Alif secara drastis.</p>
<p><span id="more-37"></span></p>
<p>Sejak Halimah menderita pembengkakan otot dan mengharuskannya untuk <em>bed rest</em> dari dua bulan lalu, tontonan Alif menjadi tidak terkontrol. Meskipun Halimah sudah berusaha keras memberikan batasan waktu untuk menonton televisi dan memberikan pengertian bahwa semua orang harus diperlakukan sama, namun Alif tetap belum berubah. Tontonannya masih yang itu-itu juga dan keadaan itu tentu saja mengkhawatirkan. ”Seakan-akan didikan saya selama bertahun-tahun menjadi mentah karena menonton acara sampah itu, ” ungkap Halimah.</p>
<p>Hal yang sama juga dialami Gizca (5). Siswi taman kanak-kanak ini sangat setia menonton pelbagai acara sinetron dan infotainment di televisi. Hasilnya? Kosakata Gizca bukanlah kosa kata yang biasanya dilontarkan balita namun seperti yang biasanya diungkapkan oleh remaja. Belum lagi soal gaya. Gizca dikenal centil dan kerapkali meniru gaya selebriti baik dalam maupun luar negeri. Saat ini saja Gizca sedang habis-habisan menjiplak Cinta Laura, dari mulai gaya rambut hingga gaya bicara.</p>
<p>Febi (23), ibunda Gizca, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena kesibukannya sebagai pegawai swasta sekaligus mahasiswa. Ibu muda yang juga sangat bergaya ini menuturkan bahwa dia hanya sempat  mengantar Gizca pergi sekolah dan baru bertemu Gizca menjelang larut. Sehari-harinya Gizca diasuh oleh neneknya. ”Saya tahu televisi tidak begitu baik buat Gizca, saya juga sudah mencoba memberi pengertian dan pembatasan waktu menonton tapi bagaimana bisa diatasi kalau ibu saya hobinya juga menonton sinetron dan acara gosip?”</p>
<p>Alif dan Gizca merupakan dua dari banyak anak yang terkena pengaruh buruk media televisi. Tanpa teratasi mereka makin tergerus oleh nilai-nilai negatif yang datang bertubi-tubi dari layar kaca warna-warni tersebut. Dua anak itu juga merupakan bukti nyata bahwa pengawasan orangtua wajib dilakukan agar anak terhindar dari bahaya buruk televisi.</p>
<p>Dalam kasus Alif dan Gizca dua-duanya terkena efek imitasi. Imitasi ini artinya peniruan perilaku yang ditayangkan di televisi selain itu efek ini datangnya setelah menonton acara televisi secara intens. Menurut Santi Indra Astuti, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan aktivis media literasi, efek televisi memang tidak serta merta namun setelah mengendap beberapa lama.</p>
<p>Menurut Santi ada beberapa pola yang bisa dilakukan orangtua dalam melakukan mediasi dengan anak-anaknya. Pertama, pola mediasi restricted dimana orantua memberi pembatasan berapa lama anak bisa menonton dan apa yang boleh ditonton. Kedua, mediasi positif yang mana orang tua mengajak anaknya menonton acara tv tertentu karena si anak akan mendapatkan sesuatu yang positif dan ketiga mediasi negatif yakni orang tua melarang anak untuk menonton cara televisi.</p>
<p>Santi menambahkan yang paling baik adalah mediasi aktif, yakni menggabungkan mediasi postif,negatif dan restriktif termasuk juga ada saatnya anak-anak dibiarkan mandiri dimana orang tua tidak ikut-ikutan dan membiarkan anak memutuskan sendiri dan mencerna jadi anak belajar mengolah informasi sendiri yang ia lihat.</p>
<p>Santi juga mengungkapkan bahwa ketika kedua orang tua bekerja maka siapapun yang mendampingi anak harus diajari prinsip-prinsip tentang media literasi agar menjadi pendamping yang baik. Tak lupa anak juga harus disediakan alternatif kegiatan lain sebanyak mungkin.</p>
<p>”Selain itu untuk anak yang masih usia playgroup hingga SD kelas dua, saya menganjurkan kalo orangtua pergi jalin komunikasi kalau tidak telpon sediakan kaset yang memperdengarkan suara orangtuanya jadi dia bisa merasakan kehadiran orangtua secara intens, ” tambah Santi.</p>
<p>Jangan dulu miris dan merasa telanjur ketika anak sudah menjadi korban televisi. Namun tetaplah berusaha karena tidak pernah ada kata terlambat dalam mendidik. Meskipun demikian jangan pula membiarkan anak terinfeksi virus televisi terlebih dahulu lalu baru melakukan mediasi. Bagaimanapun juga tindakan preventif jauh lebih baik.</p>
<p>Ikke (45), ibu dari Niesya (23), Nitra (21) dan Ulima (11) menuturkan pengalamannya selama mendidik dan membimbing anak-anaknya. Ikke tidak pernah membiasakan anak-anaknya untuk termenung di depan televisi sejak usia bawah tiga tahun (batita). ”Saya lebih senang membacakan buku untuk anak daripada membiarkan dia menonton televisi, ” ungkap Ikke. Meski demikian Ikke mengaku tidak pernah menerapkan mediasi restriktif atau negatif pada anak-anaknya. Ikke tidak pernah secara eksplisit melarang anaknya untuk menonton tayangan televisi tertentu, Ikke lebih suka mendiskusikan nilai-nilai yang ada dalam sebuah tayangan. ”Toh nantinya anak juga akan sadar sendiri mana yang bermanfaat untuk mereka”.</p>
<p>Ulima juga hingga saat ini mengaku tidak kecanduan televisi. Frekeunsi menonoton televisinya dalam sehari kurang dari 2 jam, kecuali pada akhir pekan. Berbeda dengan teman-temannya yang lain Ulima sering kebingungan ketika teman-temannya membicarakan jalan cerita inetron atau membahas selebriti. ”bagaimana mau menonton televisi, kegiatan saya sehari-hari ’kan cukup banyak, kalau menonton nanti tidak bisa mengerjakan pr atau belajar” ujar siswa kelas 6 SD ini.</p>
<p>Kegiatan Ulima sehari-hari memang cukup padat, dari mulai sekolah hingga belajar mengaji. Namun dia tidak menyesalkan hal itu karena memang pada dasarnya dia tidak suka menonton televisi. Jadi bukan berarti tidak mungkin untuk melatih anak agar tidak kecanduan pada layar kaca.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=37&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/28/anak-korban-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Televisi, Anak dan Orangtua</title>
		<link>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/28/televisi-anak-dan-orangtua/</link>
		<comments>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/28/televisi-anak-dan-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 20:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gifta Alvina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Tugas Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Media Literasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://meopinion.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tak kenal televisi?Media massa satu ini benar-benar bisa menyihir siapapun yang ada dalam jarak pandang. Suguhan gambar yang bergerak-gerak penuh warna, aktualitas informasi dan  seringkali menjadi barometer tren kehidupan masyarakat. Dibandingkan dengan media massa lainnya, televisi memang memiliki keunggulan, yakni perpaduan audiovisual yang lebih menarik dibandingkan suguhan audio atau visual saja. Di Indonesia, televisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=35&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tak kenal televisi?Media massa satu ini benar-benar bisa menyihir siapapun yang ada dalam jarak pandang. Suguhan gambar yang bergerak-gerak penuh warna, aktualitas informasi dan  seringkali menjadi barometer tren kehidupan masyarakat. Dibandingkan dengan media massa lainnya, televisi memang memiliki keunggulan, yakni perpaduan audiovisual yang lebih menarik dibandingkan suguhan audio atau visual saja.</p>
<p>Di Indonesia, televisi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir semua rumah memiliki minimalnya satu televisi. Setiap penghuni pastilah merupakan penonton aktif televisi, sekurang-kurangnya dua jam seseorang menghabiskan waktu di depan layar kaca. Dari mulai orang tua hingga anak-anak. Mirisnya yang paling banyak menghabiskan waktu di depan televisi selain ibu rumah tangga adalah anak-anak.</p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p>Data yang didapat dari hasil survey pada 100 anak di kawasan Bandung dan sekitaranya menunjukkan bahwa rata-rata anak menonton televisi selama lima jam per hari. Dalam seminggu, anak  menghabiskan waktu selama 35 jam atau lebih dari satu hari. Dalam satu tahun berarti anak menghabiskan kurang lebih 1825 jam atau 76 hari untuk menggandrungi kotak ajaib yang satu ini. Masa anak-anak yang seharusnya diiisi dengan bermain di alam terbuka kini lebih sering diiisi dengan termangu di depan layar kaca.</p>
<p>Lantas bagaimana dengan isi acara televisi sendiri? Menurut data yang didapat dari <em>Bandung School of Communication Studies </em>(BASCOMMS), acara yang diperuntukkan bagi anak ada sekitar sekitar 70 judul, 291 episode, dan menghabiskan waktu 174.5 jam dalam satu minggu dengan konten yang acapkali tidak sesuai untuk anak. Acara yang disajikan acapkali mengandung unsur kekerasan, seks, mistis dan bahasa yang kasar. Bahkan, film kartun yang identik dengan pemirsa anak pun tidak bisa disebut aman. Naruto, film kartun yang saat ini masih digandrungi anak-anak banyak menampilkan adegan perkelahian. Sayangnya tidak banyak pihak yang sadar akan bahaya televisi, hal ini diungkapkan Sondang K. Susanne Siregar, master psikologi UI sekaligus aktivis Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.</p>
<p>“Seringkali tayangan dipandang tidak merusak proses pertumbuhan anak, padahal bila diperhatikan dalam rentang waktu tertentu seorang anak bisa melakukan sesuatu yang dilihat dari tayangan televisi” lanjut Sondang.</p>
<p>Berhadapan dengan televisi seringkali seperti berhadapan dengan dua sisi mata uang. Di satu sisi, televisi merupakan sumber segala informasi dan merupakan media yang efektif dalam pertukaran pesan. Namun di sisi lain, konten dalam televisi acapkali membahayakan penontonnya. Bahkan pada konten yang umum dan seharusnya dapat dikonsumsi semua pihak seperti tayangan berita dapat saja berpengaruh negatif dalam perkembangan mental anak.</p>
<p>Sondang memberi contoh tentang eksploitasi pemberitaan pernikahan dini Ulfa, argumen Ulfa yang menyebutkan bahwa dia sudah merasa cinta, sayang dan tidak memiliki gangguan bisa menimbulkan pemikiran di benak anak-anak bahwa menikah dini dengan orang kaya akan hidup senang. Sondang berpendapat seharusnya ada sambungan dari pendapat Ulfa yang menekankan bahwa pernikahan dini tidak diperbolehkan. Sambungan atau kata-kata yang dapat memberikan pengarahan ini seringkali tidak diikutsertakan dalam pemberitaan.</p>
<p>Anak seringkali terkena pengaruh paling besar dari televisi karena anak masih belum memiliki filter untuk menyaring informasi yang datang bertubi-tubi. Santi Indra Astuti, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan aktivis media literasi, menyebutkan yang biasanya terkena pengaruh paling besar dari tontonan adalah tingkat agresivitas anak. Santi pun memaparkan teori-teori yang berkenaan dengan efek televisi, seprti teori kultivasi yang mana televisi menanamkan nilai-nilai pada anak secara perlahan dan teori imitasi yang menunjukkan bahwa anak akan meniru perilaku yang ditayangkan di televisi.</p>
<p>“Gawatnya, efek televisi ini tidak dapat dirasakan secara instan. Efek televisi itu sedikit-sedikit dan tidak terasa dan bisa jadi nantinya meledak,”imbuh Santi.</p>
<p><strong>Sudah Benarkah Klasifikasi Siaran di Televisi?</strong></p>
<p>Untuk melindungi kepentingan penonton, Komisi Penyiaran Indonesia dalam peraturan KPI No. 02 Tahun 2007 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran telah mewajibkan setiap stasiun televisi untuk mencantumkan dan atau menyebutkan informasi klasifikasi program isi siaran berdasarkan usia khalayak penonton secara terus menerus di setiap acara yang disiarkan. Penggolongan isi siaran diklasifikasikan dalam 4 (empat) kelompok usia, yaitu: klasifikasi A untuk tayangan anak, yakni khalayak berusia di bawah 12 tahun; klasifikasi R: untuk tayangan remaja, yakni khalayak berusia 12-18 tahun; klasifikasi D: untuk tayangan Dewasa; dan klasifikasi SU: untuk tayangan Semua Umur. Klasifikasi ini seharusnya terlihat di layar televisi sepanjang acara berlangsung. Namun pada kenyataannya, klasifikasi siaran ini hanya terlihat di awal acara saja.</p>
<p>Lebih lanjut Sondang juga berpendapat bahwa realitas yang terjadi di lapangan kode klasifikasi tersebut tidak terlalu diperhatikan. “Masyarakat kita sering kali tidak memperhatikan kode klasifikasi siaran itu. Yang penting ada tayangan saja di depan mata” tutur Sondang.</p>
<p>Santi menegaskan bahwa klasifikasi siaran tersebut jangan terlalu dipercaya. “Saat ini klasifikasi yang dicantumkan di media itu dibuat sendiri oleh media, saya beberapa kali menemukan acara yang seharusnya untuk remaja ditulis A atau SU atau acara dewasa ditulis remaja.”</p>
<p>Santi juga membandingkan kondisi ini dengan kondisi yang ada di Amerika. Di negara Paman Sam ada sebuah organisasi nirlaba bernama Parental Guide Association (PGA) yang bertugas untuk menentukan klasifikasi siaran untuk kepentingan publik. “Karena PGA ini diisi oleh orang-orang yang sadar media dan memiliki perhatian yang besar atas efek media maka klasifikasi yang dihasilkan juga lebih objektif, ” imbuh Santi.</p>
<p>Di sisi lain, KPI juga terkesan tidak konsisten dengan aturan yang dibuat sendiri. Dadang Rahmat Hidayat, Ketua KPID Jawa Barat menerangkan bahwa kode klasifikasi tersebut pada prinsipnya tidak usah ditayangkan terus menerus, cukup di awal dan di tengah-tengah acara. “Kalau terus menerus atau lebih sering itu lebih bagus,” ucap Dadang.</p>
<p><strong>Orang Tua Harus Berperan Aktif</strong></p>
<p>Pendidikan anak-anak tentu tidak lepas dari peran serta orang tua. Begitupun dalam menonton televisi. Menurut Sondang, setidaknya sampai anak berusia 18 tahun, anak harus senantiasa didampingi dalam menonton televisi. Orang tua juga dituntut untuk dapat menerapkan batasan-batasan menonton televisi yang menurut Sondang dapat meminimalisir dampak negatif televisi.</p>
<p>Dalam membatasi tontonan televisi anak, Sondang memberikan beberapa langkah. Pertama, perlunya penegasan pola menonton. Secara umum langkah ini berarti mengajak anak kompromi untuk tidak menonton. Kedua, pilihlah saluran televisi yang baik untuk anak, ketiga buatlah jadwal menonton yang sudah disepakatu bersama anak, keempat, berikanlah bacaan untuk mengalihkan perhatian anak dan terakhir dampingilah anak dalam menonoton televisi.</p>
<p>Dengan menegaskan aturan tersebut bukan berarti orangtua harus bersikap otoriter dan bersikap seenaknya. Kompromi juga tetap wajib dilakukan oleh orangtua. Dengan adanya interaksi maka anak akan diberi pengertian oleh orangtua dan pada akhirnya nanti anak akan terbiasa memilih informasi yang baik untuk dirinya sendiri, tutur Sondang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/meopinion.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/meopinion.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=meopinion.wordpress.com&amp;blog=11066703&amp;post=35&amp;subd=meopinion&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://meopinion.wordpress.com/2009/12/28/televisi-anak-dan-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93d51ccc7779f57d4a0ddf0ae7bf2b6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Gifta</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
