Anak, Korban Televisi?

Posted on Desember 28, 2009

2


Alif (5) dikenal sebagai anak yang sopan dan memiliki perangai yang halus meskipun sedikit hiperaktif. Ia selalu mencoba bersikap mandiri, seperti mengambil makan dan minum sendiri tanpa meminta pada Bu Min (56), pembantu rumah tangganya. Namun belakangan, sikap dan perilakunya berubah. Alif mulai sering berteriak meminta diambilkan air minum pada Bu Min bahkan pernah suatu hari bocah itu membentak Bu Min karena lama ketika mengambilkan lauk. Tak cuma itu Alif juga menjuluki Bu Min sebagai ’orang kecil’

Halimah (32) tak urung merasa heran atas perilaku anaknya tersebut. ”biasanya Alif bersikap santun pada siapa saja, saya juga kaget begitu tahu dia jadi suka memerintah atau membentak pembantu, padahal kami tidak pernah melakukannya”. Usut punya usut, terkuaklah penyebab perubahan perilaku Alif, tidak lain dan tidak bukan sinetron menjadi causa prima perubahan sikap Alif secara drastis.

Sejak Halimah menderita pembengkakan otot dan mengharuskannya untuk bed rest dari dua bulan lalu, tontonan Alif menjadi tidak terkontrol. Meskipun Halimah sudah berusaha keras memberikan batasan waktu untuk menonton televisi dan memberikan pengertian bahwa semua orang harus diperlakukan sama, namun Alif tetap belum berubah. Tontonannya masih yang itu-itu juga dan keadaan itu tentu saja mengkhawatirkan. ”Seakan-akan didikan saya selama bertahun-tahun menjadi mentah karena menonton acara sampah itu, ” ungkap Halimah.

Hal yang sama juga dialami Gizca (5). Siswi taman kanak-kanak ini sangat setia menonton pelbagai acara sinetron dan infotainment di televisi. Hasilnya? Kosakata Gizca bukanlah kosa kata yang biasanya dilontarkan balita namun seperti yang biasanya diungkapkan oleh remaja. Belum lagi soal gaya. Gizca dikenal centil dan kerapkali meniru gaya selebriti baik dalam maupun luar negeri. Saat ini saja Gizca sedang habis-habisan menjiplak Cinta Laura, dari mulai gaya rambut hingga gaya bicara.

Febi (23), ibunda Gizca, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena kesibukannya sebagai pegawai swasta sekaligus mahasiswa. Ibu muda yang juga sangat bergaya ini menuturkan bahwa dia hanya sempat  mengantar Gizca pergi sekolah dan baru bertemu Gizca menjelang larut. Sehari-harinya Gizca diasuh oleh neneknya. ”Saya tahu televisi tidak begitu baik buat Gizca, saya juga sudah mencoba memberi pengertian dan pembatasan waktu menonton tapi bagaimana bisa diatasi kalau ibu saya hobinya juga menonton sinetron dan acara gosip?”

Alif dan Gizca merupakan dua dari banyak anak yang terkena pengaruh buruk media televisi. Tanpa teratasi mereka makin tergerus oleh nilai-nilai negatif yang datang bertubi-tubi dari layar kaca warna-warni tersebut. Dua anak itu juga merupakan bukti nyata bahwa pengawasan orangtua wajib dilakukan agar anak terhindar dari bahaya buruk televisi.

Dalam kasus Alif dan Gizca dua-duanya terkena efek imitasi. Imitasi ini artinya peniruan perilaku yang ditayangkan di televisi selain itu efek ini datangnya setelah menonton acara televisi secara intens. Menurut Santi Indra Astuti, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan aktivis media literasi, efek televisi memang tidak serta merta namun setelah mengendap beberapa lama.

Menurut Santi ada beberapa pola yang bisa dilakukan orangtua dalam melakukan mediasi dengan anak-anaknya. Pertama, pola mediasi restricted dimana orantua memberi pembatasan berapa lama anak bisa menonton dan apa yang boleh ditonton. Kedua, mediasi positif yang mana orang tua mengajak anaknya menonton acara tv tertentu karena si anak akan mendapatkan sesuatu yang positif dan ketiga mediasi negatif yakni orang tua melarang anak untuk menonton cara televisi.

Santi menambahkan yang paling baik adalah mediasi aktif, yakni menggabungkan mediasi postif,negatif dan restriktif termasuk juga ada saatnya anak-anak dibiarkan mandiri dimana orang tua tidak ikut-ikutan dan membiarkan anak memutuskan sendiri dan mencerna jadi anak belajar mengolah informasi sendiri yang ia lihat.

Santi juga mengungkapkan bahwa ketika kedua orang tua bekerja maka siapapun yang mendampingi anak harus diajari prinsip-prinsip tentang media literasi agar menjadi pendamping yang baik. Tak lupa anak juga harus disediakan alternatif kegiatan lain sebanyak mungkin.

”Selain itu untuk anak yang masih usia playgroup hingga SD kelas dua, saya menganjurkan kalo orangtua pergi jalin komunikasi kalau tidak telpon sediakan kaset yang memperdengarkan suara orangtuanya jadi dia bisa merasakan kehadiran orangtua secara intens, ” tambah Santi.

Jangan dulu miris dan merasa telanjur ketika anak sudah menjadi korban televisi. Namun tetaplah berusaha karena tidak pernah ada kata terlambat dalam mendidik. Meskipun demikian jangan pula membiarkan anak terinfeksi virus televisi terlebih dahulu lalu baru melakukan mediasi. Bagaimanapun juga tindakan preventif jauh lebih baik.

Ikke (45), ibu dari Niesya (23), Nitra (21) dan Ulima (11) menuturkan pengalamannya selama mendidik dan membimbing anak-anaknya. Ikke tidak pernah membiasakan anak-anaknya untuk termenung di depan televisi sejak usia bawah tiga tahun (batita). ”Saya lebih senang membacakan buku untuk anak daripada membiarkan dia menonton televisi, ” ungkap Ikke. Meski demikian Ikke mengaku tidak pernah menerapkan mediasi restriktif atau negatif pada anak-anaknya. Ikke tidak pernah secara eksplisit melarang anaknya untuk menonton tayangan televisi tertentu, Ikke lebih suka mendiskusikan nilai-nilai yang ada dalam sebuah tayangan. ”Toh nantinya anak juga akan sadar sendiri mana yang bermanfaat untuk mereka”.

Ulima juga hingga saat ini mengaku tidak kecanduan televisi. Frekeunsi menonoton televisinya dalam sehari kurang dari 2 jam, kecuali pada akhir pekan. Berbeda dengan teman-temannya yang lain Ulima sering kebingungan ketika teman-temannya membicarakan jalan cerita inetron atau membahas selebriti. ”bagaimana mau menonton televisi, kegiatan saya sehari-hari ’kan cukup banyak, kalau menonton nanti tidak bisa mengerjakan pr atau belajar” ujar siswa kelas 6 SD ini.

Kegiatan Ulima sehari-hari memang cukup padat, dari mulai sekolah hingga belajar mengaji. Namun dia tidak menyesalkan hal itu karena memang pada dasarnya dia tidak suka menonton televisi. Jadi bukan berarti tidak mungkin untuk melatih anak agar tidak kecanduan pada layar kaca.