Saatnya Orang Tua Melek Media

Posted on Desember 28, 2009

1


Anak menjadi agresif merupakan contoh nyata dari akibat tayangan televisi. Tayangan-tayangan televisi yang jauh dari kesan mendidik memberikan dampak yang begitu kuat pada perilaku anak. Tak hanya berfungsi sebagai hiburan saja, televisi pun berfungsi sebagai media pembelajaran bagi anak-anak. Dengan pengaruh yang begitu kuat, maka orang tua berperan penting dalam menjaga anaknya dari televisi.

Melek media Untuk Orang tua

Melihat tayangan-tayangan yang mengumbar-ngumbar perilaku konsumtif, ejekkan, pelecehan seksual, dan sebagainya, membuat para orang tua harus besikap mawas dalam dalam memilih tayangan-tayangan untuk buah hatinya. Janganlah orang tua atau masyarakat berharap pada industri televisi untuk mengubah 100% tayangannya menjadi tayangan mendidik. Ini hal yang mustahil. ”Logikanya, stasiun televisi adalah penjual, dan masyarakat sebagai pembelinya,” ungkap Santi Indra Astuti Indra Astuti S.Sos., M.Si, pengamat media.

Melihat pembeli yang menyukai tayangan-tayangan seperti itu, maka ”penjual” pun akan lebih sering memutar tayangan-tayangan seperti itu. Untuk itu, bukan dari satu sisi saja yang harus dibenahi. Masyarakat atau orang tua pun harus diberikan pemahaman mengenai media literacy. Atau orang tua harus bangkit—saatnya media literacy atau melek media.

Seperti apa yang dikatakan Santi, sebagai pengamat media,  pilihan yang realistis adalah membekali penonton dengan keterampilan media literacy atau melek media. Orang tua harus dibekali keterampilan media literacy. Keterampilan dalam media literacy itu berarti : (1) dapat menyeleksi jenis dan isi media yang dikonsumsi—sesuai dengan usia dan kebutuhannya; (2) dapat mengatur kapan waktu mengonsumsi media dan membatasi jumlah jamnyal; (3) dapat memahami dan mengapresiasi isi pesan yang dikonsumsi: (4) dapat mengambil manfaat dari isi media yang dikonsumsi: serta (5) tidak mudah terkena dampak negatif.

Dalam hal ini, anak pun harus dikembangkan atau ditanamkan sikap kritisnya. Sikap kritis yang dimaksud adalah pertama, dengan mediasi aktif yaitu amengajak anak ngobrol, dan membuat peraturan mengenai tayangan-tayangan televisi.

Lain lagi dari Sondang Susanne Siregar, psikologi perkembangan yang sekarang koordinator Hotline Anak dan Remaja di Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), bahwa masih perlu memberikan pemberian pembobotan kepada ortu atau dewasa, dan juga anak. Agar si anak berpikir kritis terhadap apapun yg diterima tayangan televisi. Maksud dari pembobotan itu adalah memberikan pemahaman mengenai efek-efek dari tayangan televisi tersebut, serta pengklasifikasian kode tayangan di pojok siaran.

Ada berbagai pola dalam mediasi, yaitu pola mendampingi, orang tua hanya memberikan batasan tayangan, mediasi postif. Pola mediasi negatif, orang tua memberikan sikap yang otoriter terhadap jenis-jenis tayangan yang tidak boleh ditonton, pola mediasi positif, orang tua memberikan pengarahan yang baik keada anaknya mengenai tayangan televisi, dan pola mediasi aktif yaitu menggabungkan semua mediasi postifi, negatif, restriktif serta ada saat anaknya dibiarkan mandiri dan memilih tayangan televisi yang menurutnya baik. Aktivitas ini pun dapat dilakukan di rumah, dan di sekolah, yaitu sang guru memberikan pemahaman tentang media literacy.

Untuk itu, hal tersebut membuat anak menjadi terbatas dalam menonton televisi. Adapun batasan-batasan menurut YKAI sendiri adalah, pertama, penegasan mengenai pola menonton. Umumnya, mengajak anak kompromi tuk tidak menonton. Dimulai dengan anak yang berusia 2-3 tahun, memberikan arahan yang baik, dan terapkan disiplin untuk anak. Setelah itu umur 4-5 tahun, libatkan anak dalam aktivity di luar nonton, yang berfokus pada kegiatan motorik si anak. Kedua, memilih channel yg baik ditonton anak. Ketiga, membuat jadwal yang sudah disepakati bersama dengan anak. Keempat, orang tua memberikan bacaan untuk mengalihkan anak menonton televisi. Kelima, dampingilah anak saat menonton televisi.

Dengan pemahaman media literacy atau melek media dan mengembangkan melek media kepada anak, orang tua tak perlu takut lagi.  Orang tua pun dapat memberi batasan waktu yang ideal (jangan lebih dari 2 jam) bagi anak tanpa mengganggu kepentingan anak sendiri. Saatnya masyarakat melek media!!!