Televisi, Anak dan Orangtua

Posted on Desember 28, 2009

0


Siapa tak kenal televisi?Media massa satu ini benar-benar bisa menyihir siapapun yang ada dalam jarak pandang. Suguhan gambar yang bergerak-gerak penuh warna, aktualitas informasi dan  seringkali menjadi barometer tren kehidupan masyarakat. Dibandingkan dengan media massa lainnya, televisi memang memiliki keunggulan, yakni perpaduan audiovisual yang lebih menarik dibandingkan suguhan audio atau visual saja.

Di Indonesia, televisi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir semua rumah memiliki minimalnya satu televisi. Setiap penghuni pastilah merupakan penonton aktif televisi, sekurang-kurangnya dua jam seseorang menghabiskan waktu di depan layar kaca. Dari mulai orang tua hingga anak-anak. Mirisnya yang paling banyak menghabiskan waktu di depan televisi selain ibu rumah tangga adalah anak-anak.

Data yang didapat dari hasil survey pada 100 anak di kawasan Bandung dan sekitaranya menunjukkan bahwa rata-rata anak menonton televisi selama lima jam per hari. Dalam seminggu, anak  menghabiskan waktu selama 35 jam atau lebih dari satu hari. Dalam satu tahun berarti anak menghabiskan kurang lebih 1825 jam atau 76 hari untuk menggandrungi kotak ajaib yang satu ini. Masa anak-anak yang seharusnya diiisi dengan bermain di alam terbuka kini lebih sering diiisi dengan termangu di depan layar kaca.

Lantas bagaimana dengan isi acara televisi sendiri? Menurut data yang didapat dari Bandung School of Communication Studies (BASCOMMS), acara yang diperuntukkan bagi anak ada sekitar sekitar 70 judul, 291 episode, dan menghabiskan waktu 174.5 jam dalam satu minggu dengan konten yang acapkali tidak sesuai untuk anak. Acara yang disajikan acapkali mengandung unsur kekerasan, seks, mistis dan bahasa yang kasar. Bahkan, film kartun yang identik dengan pemirsa anak pun tidak bisa disebut aman. Naruto, film kartun yang saat ini masih digandrungi anak-anak banyak menampilkan adegan perkelahian. Sayangnya tidak banyak pihak yang sadar akan bahaya televisi, hal ini diungkapkan Sondang K. Susanne Siregar, master psikologi UI sekaligus aktivis Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.

“Seringkali tayangan dipandang tidak merusak proses pertumbuhan anak, padahal bila diperhatikan dalam rentang waktu tertentu seorang anak bisa melakukan sesuatu yang dilihat dari tayangan televisi” lanjut Sondang.

Berhadapan dengan televisi seringkali seperti berhadapan dengan dua sisi mata uang. Di satu sisi, televisi merupakan sumber segala informasi dan merupakan media yang efektif dalam pertukaran pesan. Namun di sisi lain, konten dalam televisi acapkali membahayakan penontonnya. Bahkan pada konten yang umum dan seharusnya dapat dikonsumsi semua pihak seperti tayangan berita dapat saja berpengaruh negatif dalam perkembangan mental anak.

Sondang memberi contoh tentang eksploitasi pemberitaan pernikahan dini Ulfa, argumen Ulfa yang menyebutkan bahwa dia sudah merasa cinta, sayang dan tidak memiliki gangguan bisa menimbulkan pemikiran di benak anak-anak bahwa menikah dini dengan orang kaya akan hidup senang. Sondang berpendapat seharusnya ada sambungan dari pendapat Ulfa yang menekankan bahwa pernikahan dini tidak diperbolehkan. Sambungan atau kata-kata yang dapat memberikan pengarahan ini seringkali tidak diikutsertakan dalam pemberitaan.

Anak seringkali terkena pengaruh paling besar dari televisi karena anak masih belum memiliki filter untuk menyaring informasi yang datang bertubi-tubi. Santi Indra Astuti, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan aktivis media literasi, menyebutkan yang biasanya terkena pengaruh paling besar dari tontonan adalah tingkat agresivitas anak. Santi pun memaparkan teori-teori yang berkenaan dengan efek televisi, seprti teori kultivasi yang mana televisi menanamkan nilai-nilai pada anak secara perlahan dan teori imitasi yang menunjukkan bahwa anak akan meniru perilaku yang ditayangkan di televisi.

“Gawatnya, efek televisi ini tidak dapat dirasakan secara instan. Efek televisi itu sedikit-sedikit dan tidak terasa dan bisa jadi nantinya meledak,”imbuh Santi.

Sudah Benarkah Klasifikasi Siaran di Televisi?

Untuk melindungi kepentingan penonton, Komisi Penyiaran Indonesia dalam peraturan KPI No. 02 Tahun 2007 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran telah mewajibkan setiap stasiun televisi untuk mencantumkan dan atau menyebutkan informasi klasifikasi program isi siaran berdasarkan usia khalayak penonton secara terus menerus di setiap acara yang disiarkan. Penggolongan isi siaran diklasifikasikan dalam 4 (empat) kelompok usia, yaitu: klasifikasi A untuk tayangan anak, yakni khalayak berusia di bawah 12 tahun; klasifikasi R: untuk tayangan remaja, yakni khalayak berusia 12-18 tahun; klasifikasi D: untuk tayangan Dewasa; dan klasifikasi SU: untuk tayangan Semua Umur. Klasifikasi ini seharusnya terlihat di layar televisi sepanjang acara berlangsung. Namun pada kenyataannya, klasifikasi siaran ini hanya terlihat di awal acara saja.

Lebih lanjut Sondang juga berpendapat bahwa realitas yang terjadi di lapangan kode klasifikasi tersebut tidak terlalu diperhatikan. “Masyarakat kita sering kali tidak memperhatikan kode klasifikasi siaran itu. Yang penting ada tayangan saja di depan mata” tutur Sondang.

Santi menegaskan bahwa klasifikasi siaran tersebut jangan terlalu dipercaya. “Saat ini klasifikasi yang dicantumkan di media itu dibuat sendiri oleh media, saya beberapa kali menemukan acara yang seharusnya untuk remaja ditulis A atau SU atau acara dewasa ditulis remaja.”

Santi juga membandingkan kondisi ini dengan kondisi yang ada di Amerika. Di negara Paman Sam ada sebuah organisasi nirlaba bernama Parental Guide Association (PGA) yang bertugas untuk menentukan klasifikasi siaran untuk kepentingan publik. “Karena PGA ini diisi oleh orang-orang yang sadar media dan memiliki perhatian yang besar atas efek media maka klasifikasi yang dihasilkan juga lebih objektif, ” imbuh Santi.

Di sisi lain, KPI juga terkesan tidak konsisten dengan aturan yang dibuat sendiri. Dadang Rahmat Hidayat, Ketua KPID Jawa Barat menerangkan bahwa kode klasifikasi tersebut pada prinsipnya tidak usah ditayangkan terus menerus, cukup di awal dan di tengah-tengah acara. “Kalau terus menerus atau lebih sering itu lebih bagus,” ucap Dadang.

Orang Tua Harus Berperan Aktif

Pendidikan anak-anak tentu tidak lepas dari peran serta orang tua. Begitupun dalam menonton televisi. Menurut Sondang, setidaknya sampai anak berusia 18 tahun, anak harus senantiasa didampingi dalam menonton televisi. Orang tua juga dituntut untuk dapat menerapkan batasan-batasan menonton televisi yang menurut Sondang dapat meminimalisir dampak negatif televisi.

Dalam membatasi tontonan televisi anak, Sondang memberikan beberapa langkah. Pertama, perlunya penegasan pola menonton. Secara umum langkah ini berarti mengajak anak kompromi untuk tidak menonton. Kedua, pilihlah saluran televisi yang baik untuk anak, ketiga buatlah jadwal menonton yang sudah disepakatu bersama anak, keempat, berikanlah bacaan untuk mengalihkan perhatian anak dan terakhir dampingilah anak dalam menonoton televisi.

Dengan menegaskan aturan tersebut bukan berarti orangtua harus bersikap otoriter dan bersikap seenaknya. Kompromi juga tetap wajib dilakukan oleh orangtua. Dengan adanya interaksi maka anak akan diberi pengertian oleh orangtua dan pada akhirnya nanti anak akan terbiasa memilih informasi yang baik untuk dirinya sendiri, tutur Sondang.

Ditandai: