Cerita Hujan

Posted on Desember 30, 2009

6


Hujan menderas menyentuh aspal kota Bandung. Beberapa mulut menggerundel sendiri di depan pintu masuk sebuah mall di kawasan Merdeka. Yang lain bersegera berteduh di pohon besar bahkan ada yang langsung masuk ke toko-toko sekitar. Namun ada yang tertawa girang ketika tetesan air langit membesar dan merapat. Cepat-cepat mereka lari ke suatu tempat tak jauh dari sana. Lalu berebut membawa payung yang sedari pagi sudah disandarkan disitu.

Sebutlah namanya Asep. Bocah lelaki berusia 11 tahun yang ikut berlarian. Mencoba mengais lembaran ribuan dari turunnya hujan. Dengan upah satu porsi otak-otak plus genggaman sepuluh ribu di tangan, saya berhasil menarik Asep untuk duduk di pinggiran sebuah showroom mobil. Dia berseri-seri memandang otak-otak di pangkuannya dan selembar puluh ribuan yang saat itu sudah berpindah ke kantong celananya.

“Kalo hujan gede kayak gini, rezeki namanya buat saya dan temen-temen,” katanya sambil cengar-cengir. Saya cuma bisa ikut tersenyum. Saya hanya bisa menunggunya memakan satu bungkus otak-otak sebelum kembali memaksanya bicara.

“Saya udah lama di jalan Teh, ada lah dua atau tiga tahun mah,” Asep mengawali ceritanya. Beban ekonomi membuat Asep terbawa ke jalanan. Menikmati arus keras kehidupan di usianya yang masih sangat belia. Penghasilan ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu yang jadi buruh cuci ternyata tidak pernah cukup membiayai hidup keluarga yang terdiri dari enam nyawa itu. Jangankan untuk sekolah, makan bisa sehari tiga kali saja sudah cukup mewah.

Asep akhirnya harus drop out pada kelas 2 SD. Bosan di rumah, membuatnya bermain di jalanan. “Saya diajak temen ikutan ngamen. Tapi sebelumnya emang harus lapor dan minta izin dulu sih” ujar Asep sambil membuka bungkus otak-otak yang ketiga. Mengamen, mengemis, dan jadi ojek payung adalah tiga pekerjaan yang kerapkali dilakoni Asep. Jika sedang ingin menyanyi, maka mengamenlah ia dengan bekal kecrikan tutup botol atau gitar kecil yang dipinjam dari teman sesama anak jalanan. Jika hujan mengguyur maka ojek payung adalah sumber pencaharian terbesar. Tapi kalo dia sedang enggan dan hanya ingin berjalan-jalan maka dengan gampang ia akan memelas sambil menengadahkan tangan.

Tiga pekerjaan yang dilakoni bergantian ini ternyata membawa rupiah ke rumah. Dari recehan hingga ribuan ia hitung dan akhirnya dibagi dua. Sebagian untuk ibunya, sebagian lagi untuk dihabiskan seorang diri. “Kalo lagi rame teh, sehari saya bisa dapet sampe duapuluh lima ribu, bahkan lebih.Tapi kalo sepi, paling cuma dapet sepuluh ribuan,” ungkap Asep blak-blakan.

Dengan pemasukan rutin perhari meski tak tentu besaran. Mau tak mau orangtua Asep memperbolehkan anak itu berkeliaran. Setiap pagi, dibonceng sebuah sepeda tua, Asep diantar ayahnya hingga persimpangan Riau-Merdeka. Baru setelah jam delapan malam, ayahnya menunggu disudut gajahlumantung.

“Rumah saya disebelah sana tuh. Deket sama ITB.” ujar Asep ketika saya tanya dimana dia tinggal.  Asep lantas bercerita bagaimana dia setiap hari biasa melihat mahasiswa ITB berseliweran di depannya. Menenteng buku sambil berdiskusi di jalan-jalan. Atau malah menenteng buku plus menggandeng pacar.  Dia hanya menyeringai ketika saya tanya tentang sekolah dan kemungkinan kuliah di kampus ternama itu. Sekolah adalah hal yang tak mungkin diraihnya.

“Saya udah ngga mungkin sekolah Teh, biayanya gede, teu kabedag!” Ujarnya setengah menggerutu. Begitu saya sampaikan tentang sekolah dasar yang kini tanpa SPP, bocah 11 tahun itu lagi-lagi menyeringai. Kemudian dia lantang menyebut kebutuhan bersekolah seperti buku pelajaran, buku tulis, seragam dan alat pensil yang juga butuh biaya yang tak sedikit. “Daripada buat gituan (perlengkapan sekolah. red), mending buat makan aja lah Teh,” katanya ringan.

Meski berpenghasilan hingga Rp. 750.000,00 sebulan, bukan berarti hidup di jalan lancar-lancar saja. Aman dan mulus layaknya jalan tol yang di hotmix. Hidup di jalanan juga keras dan berdinamika. Dari mulai senioritas antar anak jalanan, rebutan cakupan wilayah hingga yang paling menyakitkan adalah kena garuk satpol PP.

“Aduh teh, ngga mau lagi saya mah kena razia.” ujarnya sambil menerawang kedepan. Razia anak jalanan memang pernah dialami Asep. Tapi bukannya diberi penyuluhan, yang ada hanya pukulan dan tendangan yang mampir di tubuh mungil itu. Jangan tanya apakah ada LSM yang memberikan perlindungan, jangan tanya pula tentang belas kasihan pemerintah daerah. Tiga hari mendekam di kurungan, yang membebaskan ternyata dari perseorangan.

“Saya inget banget Teh, yang dateng dan bebasin saya dan temen-temen waktu itu almarhum Harry Roesli.” Katanya sambil mengerjapkan mata. Menangis?? saya tidak tahu pasti.

Jalanan juga mengajarkan Asep bahwa hidup semakin lama semakin berat. Bukan saja orang-orang semakin pelit tapi juga bertambahnya anak jalanan mengurangi rupiah yang bisa terhasilkan.

“Bagaimana kalo kamu udah ngga dapet uang lagi dari jalanan Sep?, ” saya iseng bertanya. Asep lama termenung sebelum menjawab. “Saya bakal nyari lahan kerja lain teh, mungkin jadi kuli kayak Bapak, atau apa gitu… yang penting bisa buat perut kenyang.”

Senja sudah mulai turun perlahan. Tapi hujan masih menderas. Asep akhirnya bangkit setelah otak-otak terakhir habis dilahap. Saya hanya bisa menyaksikan anak itu berlari menembus hujan dengan payung tertenteng. Ada ibu-ibu di seberang jalan yang celingukan mencari tumpangan payung.

Posted in: Feature, Jurnalistik