tweet war on tweet world between young tweeter user

Posted on Februari 17, 2010

2


Finding name marsha be trending topics in my tweeter home. Penasaran, akhirnya saya buka tweet dua belah pihak yang sedang berseteru ini. Dari yang saya tangkap sih sebetulnya berawal dari ketidaksukaan miss M atas tweet-tweetnya… lets say w’s. Dia bilang tweetnya w’s itu sampah dan lenje karena hanya berbicara tentang para lelaki dan ngga punya kehidupan and soon and soon. Awal tweetnya Ms M. cuma bilang supaya w’s jangan sok inggris. memang sih, dari kacamata saya sebagai penonton Tweet Ms. M meng-insult w’s. Jadi karena kultur orang Indonesia yang rasa solidaritasnya begitu tinggi, teman-teman dan followers w balik menginsult Ms. M.

Hingga finally, beredar isu di sebuah media bahwa M menjelekkan sekolah negeri. Dari penelusuran tweet sih saya sih awalnya tidak menemukan statement eksplisit. M hanya menyebutkan bahwa w’s dan mereka yg membelanya adalah alay dan alay sekolah di kolong jembatan bukan di sekolah internasional. Begitu kata alay disebut, ya otomatis rasa marah makin membara.

Tapi ternyata the statement tentang menjelekkan sekolah negeri comes out 6 hours ago dan lengkapnya adalah “Sorry ya gw sekolahnya di sekolah swasta bukan dinegri2 yg kampung2”

Hm.

Saya tidak akan memberikan judgment siapa yang salah dan siapa yang benar.

Tapi saya jadi berpikir sesuatu hal yang kadang luput dari perhatian kita sebagai netter atau lebih spesifiknya pengguna social media seperti twitter. Lalu apa yang luput? Menurut saya yang luput adalah etika dan rasa hormat pada orang lain. Karena merasa twitter (atau social media lain) adalah ranah privat dimana kita bebas beraksi, berkreasi dan mengeluarkan pendapat maka kita lupa bahwa ada orang yang akan melihat apa yang kita sampaikan, melihat foto yang kita upload. Karena lupa ada orang lain itu maka kita juga lupa bertenggang rasa.

Padahal salah satu sifat komunikasi adalah communication is irreversible. Apa yang sudah kita lakukan/ucapkan tentu tidak akan bisa kita kembalikan lagi. Yang saya sesalkan dari netter khususnya dua tweet user yang saya ceritakan. Kejadian ini akan berbekas di kehidupan mereka. meskipun mereka tidak ingin mengingatnya tapi apa yang mereka lakukan saat ini bisa dibaca semua orang dan data digital (seperti yang kita tahu) akan sulit dihapus.

Kita harus bisa menjaga etika kita sendiri daripada ikut diatur melalui RPM Konten Multimedia:)

So guys, inget peribahasa mulutmu harimaumu, sekarang bisa jadi tweetmu harimaumu.

Ditandai: , ,
Posted in: Opini