Menyoal UN

Posted on April 28, 2010

0


Ujian Nasional alias UN 2010 tingkat SMA membawa sekian berita. Mulai dari kesalahan pemeriksaan yang mengakibatkan keterlambatan pengumuman, siswa unggul yang mendapat nilai rendah dan harus ujian ulang, hingga bunuh diri karena gagal ujian.

Tingkat ketidaklulusan siswa UN saat ini mencapai 10%. Saya tidak tahu apakah ini angka yang besar atau kecil. Namun ketidaklulusan ini lantas membuat yang berwenang dan yang merasa berkepentingan saling tuding. Ada yang bilang bahwa kekurangan guru di daerah pelosok menjadi penyebab (tapi kalo ini yang jadi masalahnya kenapa siswa di sekolah favorit di kota besar juga ada yang tidak lulus?) hingga menyoroti sistem UN yang memiliki standardisasi nasional tidak tepat untuk diterapkan.

ironis memang, mengecap pendidikan dengan menghabiskan waktu tiga tahun dan mengeluarkan biaya sekian rupiah lantas gugur begitu saja karena nilai yang tidak mencapai batas.  Dan entah kenapa saya lebih menyukai sistem EBTA/EBTANAS yang dulu. Siswa tetap ujian tanpa ada nilai kelulusan. Hasil yang didapatkan akan menjadi kebanggaan dan pembuktian pribadi. Jika hasil UN sekarang? Saya tidak tahu pasti! Hasil UN hanyalah sekedar untuk kelulusan!!

Meski UN saat ini menggoreskan banyak air mata untuk 10% siswa Indonesia tapi nilai UN yang didapat 90% siswa tentu memuaskan(minimal untuk dirinya sendiri). Tanpa bermaksud menggeneralisasi, dua kenalan saya yang lulus SMA mendapatkan nilai fantastis. Yang satu mendapat Nilai 9 di matematika dan satu lagi hasil UN-nya rata-rata 9. Fantastis. Kenapa saya sebut fantastis? Karena saya tahu yang mendapat nilai 9 di matematika tidak terlalu cemerlang di pelajaran tersebut, dan yang punya rata-rata 9 malah kondisi biasanya hanya rata-rata.

Meski demikian, nilai fantastis di UN saya rasa tidak akan membawa efek apa-apa. Terlebih bagi lulusan SMA. etelah UN lewat ujian masuk untuk duduk di bangku kuliah tentu menanti. disini kawan-kawan SMA dengan nilai UN mereka harus bertarung lagi. Kini tanpa contekan atau jawaban yang disebar dari ponsel ke ponsel. Hanya faktor luck, tingkat kecerdasan dan pada beberapa kasus seberapa dalam para orang tua siap merogoh kantong uang mereka.

Love,

MeO

Ditandai: ,
Posted in: Opini