City Of Bones, Kuartet Perjalanan Pemburu Bayangan.

Posted on Juli 6, 2010

3


Bagaimana jadinya jika kamu bisa melihat makhluk makhluk dari dunia lain di sekitarmu? Bagaimana jadinya jika selama belasan tahun kamu ternyata memiliki ingatan yang tersegel? Bagaimana jika suatu hari makhluk-makhluk buas menyerangmu dan ibumu? Takut? Penasaran? Mungkin itu pula yang dirasakan oleh Clary (16) yang bertualang di sebuah dunia baru yang gelap, Dunia Bayangan setelah malam hang-outnya yang biasa-biasa saja turns out to be a worst one. A nightmare ever.

Lantas kenapa dengan Jace (17)? Pemburu bayangan judes dan straight to the point yang baru dikenal  namun bisa menenangkan Clary lebih dari yang bisa dilakukan Simon, sahabat baiknya. Mungkinkah Clary jatuh cinta pada Jace?

Novel pertama dari Kuartet pemburu bayangan ini menawarkan sebuah kisah fiksi perpaduan mitos satu dan lainnya. Ada nephilim (manusia keturunan malaikat), werewolf, vampir hingga kelpie. Apa saja yang disajikan? untuk ini saya akan mencoba merangkumnya, bayangkan saja novel Hush Hushnya Becca Fitzpatrick dicampur dengan serial Harry Potter J.K.R plus Serial Percy Jackson. Bingung? Sama! membacanya seperti harus memakan sepiring makanan dengan menu yang bermacam-macam.

Kenapa saya bilang ini memiliki formula campur aduk dengan tiga novel/ serial di atas? Satu, ini membahas tentang Nephilim, salah satu tokoh sentral dari Novel Hush-Hush plus makhluk-makhluk gaib yg ada di dalamnya.  Dua, setting institut, tokoh Hodge, tokoh Valentine, saudara hening, Kunci, Lingkaran akan sangat mengingatkan kita pada kastil hogwarts, Dumbledore,  Voldemort, Unspeakables, Wizengamot dan Death Eaters yang ada di serial HP. Tiga, plot menyembunyikan anak dan pergi dari dunia bayangan dan bagaimana mereka bertarung akan mengingatkan kita pada serial percy jackson minus para dewa.

Tapi memang sih, ada perbedaan pengertian mitos disini. Di buku ini vampir dikabarkan punya motor terbang (sounds like sirius motorcycle eh?) namun tidak glamor, mewah dan hanya makhluk rendah yang tinggal di hotel bobrok. Sama sekali bukan vampirnya twilight!🙂. Tapi masalah werewolf, Cassandra Clare rupanya memiliki ide yang sama dengan Meyer plus sedikit JKR. Werewolf dalam buku ini hidup secara kawanan, ada alfa dan beta, dan tidak boleh ada dua alfa dalam satu kawanan or they will duel to kill to reign supremacy😛 plus werewolf disini juga tetap takut pisau perak dan ada karena gigitan.

Sebetulnya plotnya cukup tricky meski yah pemaparannya agak membosankan. Pemaparan yg membosankan ini membuat saya tidak betah membaca buku setebal 659 halaman ini. entah jika saya membaca versi asli, karena versi terjemahan ini cukup membosankan. Mungkin ufuk selaku penerbit bisa mengganti penerjemah dan editor naskah di buku selanjutnya🙂. Bukan apa-apa, meski formulanya campur aduk namun buku ini cukup menarik untuk dibaca, apalagi bagi mereka yang gemar genre fantasi slash mitosmitos seperti serial Harry Potter, Percy Jackson dan atau Eragon. Tapi kalo pemaparan di bukunya ngga asyik, percayalah buku ini akan begitu sulit dicerna, belum lagi mempertimbangkan isinya yang begitu padat karya. Namun menariknya buku ini menyediakan footnote untuk memberitahu jenis makanan hingga nama wilayah.

Meski demikian, buku ini cukup oke untuk dibaca pada akhir pekan yang tenang atau masa liburan. But don’t expect too much. Bacalah tanpa pretensi dan hilangkan ingatan tentang serial HP, Percy Jackson, Eragon bahkan novel Hush Hush. Dijamin, novel ini akan cukup menyenangkan.

Love,

MeO

Posted in: Opini, Resensi