Kategorisasi Teori-Teori Komunikasi Massa

Posted on September 27, 2010

0


Dalam penelitian komunikasi massa, Littlejohn mengungkapkan tiga topik yang sering dan dapat diteliti serta menghasilkan beberapa teori yakni isi dan susunan komunikasi massa, masyarakat dan budaya serta audiens. McQuail (2000) menyebutkan beberapa tema lain yang dapat diteliti dalam komunikasi massa yakni struktur dan organisasi media.

Pada tataran teori, McQuail (2000) kemudian membedakan teori-teori media massa menjadi lima bagian yakni :
1. Teori Sosial Ilmiah : teori yang masuk dalam kategori ini merupakan teori yang didasari oleh penelitian-penelitian empiris. Hipotesis-hipotesis tentang bagaimana komunikasi massa bekerja dan atau bagaimana efek komunikasi massa kemudian diuji melalui pengujian sistematis dan observasi objektif.
2. Teori Kultural : teori yang masuk dalam kategori ini memiliki beragam karakter. Meski demikian teori ini selalu memiliki argumen yang jelas dan konsistensi yang tinggi meski komponen intinya bisa jadi sangat imajinatif dan ideal. McQuaill menjelaskan bahwa teori-teori kultural ini biasanya diaplikasikan pada media visual seperti film, foto atau poster.
3. Teori Normatif : teori yang masuk dalam kategori teori normatif merupakan teori yang menjelaskan bagaimana seharusnya media beroperasi dengan sebuh sistem spesifik dalam nilai-nilai sosial. Teori ini mencakup tentang empat teori pers.
4. Teori Operasional : teori operasional adalah teori normative namun dengan segi-segi praktikal. Teori yang masuk dalam kategori ini bukan hanya mengenai bagaimana idealnya sebuah media beroperasi namun juga bagaimana sebuah media dapat beroperasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Teori yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah teori-teori periklanan dan perilaku konsumen
5.Teori common sense : disebut juga dengan teori sehari-hari, teori ini merujuk kepada pengetahuan dan ide-ide yang dimiliki oleh semua orang yang pernah bersinggunagan dengan komunikasi massa. Lebih lanjut, Baran dan Davis menyebutkan bahwa setiap orang memiliki teori-teori tersendri tentang saluran komunikasi massa yang seperti apa yang berkualitas.

Berbeda dengan pengkategorisasian McQuail, Baran dan Davis (2000) mengelompokkan teori-teori yang berkembang dalam komunikasi massa sesuai dengan era perkembangannya yakni era teori masyarakat massa, era kebangkitan perspektif ilmiah dalam komunikasi massa, era efek terbatas, era kritis kultural dan era efek moderat.

Era masyarakat massa dimulai saat teknologi komunikasi massa berkembang. Dengan penemuan-penemuan terbaru, baik dalam bidang industri maupun media, banyak ilmuwan sosial yang berpikir bahwa media massa merupakan simbolisasi segala sesuatu yang salah dalam kehidupan urban di awal abad 19. Perlu diketahui bahwa ilmuwan ilmuwan sosial ini berasal dari golongan golongan elit bangsawan yang takut akan perubahan. Perspektif keilmuan yang berasal dari ketakutan ini kemudian dirujuk sebagai teori masyarakat massa.

Argumen inti pada teori masyarakat massa ini adalah media massa dianggap merusak tatanan sosial tradisional dan untuk memperbaikinya harus diambil langkah-langkah untuk mengembalikan lagi nilai-nilai lama atau menciptakan sesuatu yang baru. Teori ini sangat membesar-besarkan kemampuan media untuk merusak tatanan sosial sehingga gagal mempertimbangkan bahwa kekuatan terbesar media ada pada pilihan bebas masyarakat untuk mengkonsumsi media tersebut (Baran dan Davis, 2000:12)

Era kebangkitan perspektif ilmiah dalam komunikasi massa dipelopori oleh Katz Lazarzfeld. Imigran yang keluar dari Nazi Jerman dibawah Ford Foundation ini kemudian berkeras bahwa untuk mengetahui pengaruh komunikasi atau media massa tidak cukup hanya dengan asumsi-asumsi semata. Lazarsfled kemudian menawarkan ide untuk melakukan peneliatian yang didesain secara teliti dan melakukan percobaan lapangan sehingga dia dapat mengamati dan mengukur pengaruh media kepada masyarakat. Lazarsfeld et all dalam Baran dan dan Davis (2000) mengutarakan bahwa sekedar mengasumsikan bahwa propaganda politik memiliki pengaruh yang besar, harus ada bukti yang kuat yang dapat menunjukkan pengaruh tersebut.

Hingga pada awal 1950an penelitian Lazarsfeld kemudian menghasilkan banyak data yang menginterpretasikan bahwa komunikasi melalui media massa tidaklah memiliki pengaruh sebesar yang selama ini dibayangkan. Media massa justru mendukung tatanan sosial dan status quo yang berkembang di masyarakat. bukan mengancamnya. Hal ini kemudian dilabeli sebagai perspetif efek terbatas atau limited effetcs perspective dan membawa ilmuwan komunikasi kepada era efek terbatas.

Setelah tahun 1950an para peneliliti di bidang komunikasi massa kemudian menghentikan penelitian yang berkaitan tentang powerful effects dan mendokumentasikan semua hal yang berhubungan dengan limited effects. Hasil penelitian ini kemudian sangat konsisten dengan yang dikemukakan oleh Lazarsfled sehingga banyak peneliti merasa bosan dan beranggapan bahwa penelitian komunikasi massa sudah habis (Berelson dalam Baran dan Davis, 2000).

Era keempat yang dikemukakan oleh Baran dan Davis (2000) adalah era kritisme kultural (cultural criticism). Meski efek terbatas populer di Amerika namun para peneliti Eropa skeptis terhadap metode penelitian Amerika. Era ini menghasilkan sedikitnya dua perspektif komunikasi massa yakni neomarxisme dan studi kultural Inggris (british cultural studies).

Neomarxisme menganggap bahwa media membuat para elit dominan untuk mengembangkan kekuatan mereka. Hall dalam Baran dan Davis (2000) kemudian menjelaskan bahwa media menyebarluaskan cara pandang yang sesuai dengan para elit dominan. Dengan kata lain media massa dianggap sebagai area publik dimana sebuah pertempuran budaya terjadi dan budaya hegemoni ditempa habis-habisan untuk menyiarkan pandangan bahwa status quo merupakan satu-satunya hal yang logis dan rasional dalam struktur masyarakat.

British cultural studies memfokuskan penelitiannya pada media massa dan peranannya dalam mempromosikan pandangan dunia yang terhegomoni dan budaya dominan diantara beragam subgrup di masyarakat. Dalam penelitiannya Mosco dan Herman (dalam Baran dan Davis, 2000) kemudian menemukan bahwa orang-orang kerapkali menolak terhadap ide hegemoni dan menyebarkan interpretasi alternartif dari kehidupan sosial. Meskipun British cultural studies bermula dari asumsi-asumsi determinis tentang pengaruh media massa namun penelitian mereka kemudian lebih berfokus terhadap studi resepsi khalayak yang membangkitkan kembali pertanyaan penting tentang kekuatan potensial yang dimiliki media dalam situasi tertentu dan kemampuan khalayak aktif untuk menahan pengaruh media.

Era terakhir adalah era efek moderat dimana pertanyaan tentang efek media kembali dipertanyakan dengan cara yang berbeda. Setelah pada tahun 1960an penelitian pada bidang komunikasi massa dianggap mati pada era ini komunikasi massa diteliti dari sudut pandang khalayak. Salah satu anggapan utama dalam era ini adalah tentang khalayak aktif yang menggunakan media untuk membuat pengalaman berarti (Bryan dan Street dalam Baran dan Davis, 2000,17). Menurut perspektif ini juga pengaruh media bisa timbul sebagai konsekuensi langsung setelah adanya interaksi yang cukup lama. Dari era ini teori-teori yang muncul antara lain adalah teori semiotik dan framing.

Posted in: Academic